Setelah cukup lama dinantikan, akhirnya film Penyalin Cahaya tayang juga pada tanggal 13 Januari yang lalu. Film yang menyabet 12 penghargaan dalam event Festival Fim Indonesia (FFI) ini, mengangkat tema yang beberapa waktu belakangan memang sedang banyak terkuak di ruang digital, yaitu tentang pelecehan seksual.

Beberapa bulan sebelum film ini tayang secara resmi di Netflix, respons positif yang diberikan oleh pihak-pihak yang sudah terlebih dulu menonton, sudah bertebaran di berbagai media.

film penyalin cahaya
source : tempo

Film Penyalin Cahaya

Tema yang berani dan sensitif, akting pemain yang luar biasa, dan sinematografi yang keren, menjadi tiga hal utama yang paling sering disebut dalam menggambarkan film ini. Karena respons dan ulasan positif itulah yang membuat banyak orang (termasuk saya) tidak sabar untuk segera menonton film ini.

Namun sayangnya, menjelang hari H penayangan, film ini justru tersandung satu masalah besar karena salah satu krunya diketahui pernah menjadi pelaku pelecehan seksual. Adanya kabar tersebut tentu saja menjadi satu ironi. 

Bagaimana tidak, film yang menyuarakan ketidakadilan pada korban pelecehan seksual, salah satu krunya justru pernah menjadi pelaku. Lebih mirisnya lagi, posisi pelaku dalam film hampir sama dengan posisi pelaku dalam tim/kru pembuat film. Mengetahui fakta tersebut, tidak heran jika kemudian ada yang menganggap bahwa film ini seperti “tempat curhatnya” pelaku.

Dampak dari kabar kasus pelecehan seksual tersebut, nama kru yang menjadi pelaku pun dihapus dari daftar kru oleh pihak rumah produksi dan studio. Selanjutnya, (calon) penonton pun terbelah dua. Ada yang ingin meng-cancel/menolak untuk menonton film ini, ada juga yang tetap menonton tanpa sama sekali mengesampingkan rasa keberpihakan kepada korban.

Review Film Penyalin Cahaya

Penyalin Cahaya yang dalam judul bahasa Inggris disebut Photocopier, bercerita tentang Suryani/Sur (Shenina Cinnamon), mahasiswi yang beasiswanya dicabut setelah fotonya yang dianggap tidak beretika, muncul di media sosial.

photocopier
source : ayoindonesia.com

Setelah diusut lebih jauh, kejadian tersebut ternyata menjadi gerbang awal dari kejadian pahit lainnya, Sur adalah salah satu korban pelecehan seksual. Sebagaimana yang kita tahu, menjadi korban pelecehan seksual, terlebih jika ada ketimpangan relasi kuasa di dalamnya, maka keadilan hanya sekadar ilusi.

Dalam perjalanan mencari keadilan, keadaan justru menempatkan Sur terjatuh pada ketidakadilan lainnya. Karena dianggap kurang bukti, Sur justru dituduh melakukan pencemaran nama baik. Akhirnya, ia dipaksa membuat permintaan maaf kepada pelaku. Yang lebih menyedihkan adalah, salah satu orang yang terlibat dalam permintaan maaf tersebut adalah ayahnya Sur sendiri. 

Kehadiran pihak kampus tidak perlu ditanyakan lagi, jangankan memberi keadilan, janji melindungi identitas pelapor sekaligus korban pun dilanggar.

Selanjutnya, film ini juga mengangkat realitas perihal victim blaming atau menyalahkan korban. Mengetahui siapa sosok di balik pengunggah foto Sur di media sosial, rasanya saya marah sekali. Mau protes, kenapa kok ceritanya jadi seperti itu? 

Namun, setelah saya pikir-pikir lagi, seringkali memang begitulah yang terjadi di dunia nyata. Apa yang menimpa korban seringkali dianggap sebagai “hukuman” atas tingkah laku korban sendiri.

Tadinya, saya juga sempat heran dengan kemunculan adegan fogging yang berulang. Namun, setelah mendengar kata menguras, menutup, dan mengubur, saya jadi paham bahwa adegan tersebut sebagai simbol atas respons yang diberikan terhadap korban kasus pelecehan seksual. Emosi dan tenaganya dikuras agar semakin tidak berdaya, korbannya dipaksa tutup mulut, dan kasusnya pun dikubur.

Setelah menonton film ini sampai selesai, saya sepakat bahwa tema, akting, dan sinematografinya memang layak diacungi jempol. Namun, yang terasa kurang adalah kedekatan emosional antara Sur dengan saya sebagai penonton.

Sebagai penonton, seringkali saya merasa lebih diajak untuk menebak siapa pelakunya/mengungkap misteri atas apa yang dialami Sur dibanding melihat ke dalam diri Sur sebagai seorang korban. Untuk film dengan tema serupa, sisi traumatis atau perasaan kalutnya seorang korban lebih bisa saya rasakan lewat tokoh May dalam film 27 Steps Of May, tokoh Sinta dalam film pendek Demi Nama Baik Kampus, atau tokoh Zanna dalam film Dear Nathan: Thank You Salma.

Adanya hal tersebut saya anggap sebagai kekurangan atas film ini. Saya tentu saja bisa salah. Namun, demikianlah yang saya tangkap. Kalian yang sudah menonton film Penyalin Cahaya, bagaimana tanggapannya? Diskusi, yuk!


Author :

Seorang ibu yang suka membaca dan sedang belajar menulis. Blasteran Jawa-Toraja, yang bisa disapa lewat IG dan Twitter @utamyyningsih

Post a Comment

Previous Post Next Post