Ada yang sudah nonton Film Akhirat a Love Story?

Setelah menjajal beberapa film (pendek maupun panjang) yang bertema pelecehean seksual, beberapa hari yang lalu saya mencoba menonton satu film di Netflix dengan premis yang terbilang berat yaitu tentang cinta beda agama. Judulnya, Akhirat: A Love Story.

film akhirat a love story
source : wikipedia.org

Akhirat a Love Story

Sebelum tayang di Netflix, film tersebut sebenarnya sudah pernah tayang di bioskop. Namun, belum lagi sempat saya tonton, filmnya sudah keburu turun layar.

Akhirat: A Love Story bercerita tentang hubungan percintaan antara Mentari/Tari (Della Dartyan) dengan Timur (Adipati Dolken). Sebelum berpacaran, Tari dan Timur sudah saling mengenal karena bersekolah di SMA yang sama. Seperti jalinan percintaan beda agama pada umumnya, mereka pun menjalani hubungan sembunyi-sembunyi alias backstreet.

Tari dan Timur berasal dari keluarga yang agamais. Selain persoalan beda agama, persoalan perbedaan latar belakang ekonomi keluarga pun jadi satu hal yang menjadi tembok pembatas dalam hubungan mereka. Tari berasal dari keluarga dengan ekonomi yang terbilang wah, sementara Timur berasal dari keluarga sederhana. 

Adanya dua tembok penghalang tersebut, terutama persoalan beda agama, tentu saja menimbulkan pertanyaan: akan ke mana hubungan mereka berlabuh? Apa yang sebaiknya mereka korbankan? Cinta atau …?

Sebagaimana kata akhirat yang terpampang nyata dalam judulnya, film ini terbilang unik karena menampilkan kisah cinta di dunia akhirat. Malam setelah Tari dan Timur membicarakan perihal nasib hubungan mereka, mereka mengalami kecelakaan dan mengakibatkan koma. 

Selama masa-masa koma itulah, kita akan dibawa untuk melihat petualangan Tari dan Timur untuk memperjuangkan cintanya dalam dunia yang berbeda, dunia antara arwah dan manusia.

Selama di dunia berbeda tersebut, mereka juga bertemu dengan arwah-arwah lain yang juga punya masalah dan kegelisahannya masing-masing. Meski Tari dan Timur sudah mencoba meyakinkan diri masing-masing atas kesepakatan yang telah mereka buat, tetapi pada kenyataannya rasa ragu itu tetap ada. Terlebih setiap kali Tari melihat kondisi kedua orang tuanya yang begitu sedih dan terpukul.

Review Akhirat A Love Story

sinopsis akhirat a love story

Tema tentang cinta beda agama sebenarnya bukanlah tema yang baru. Sebelumnya sudah ada beberapa film tanah air yang juga mengangkat kisah percintaan beda agama (baik sebagai tema utama maupun sebagai sub tema), salah satunya film Cin(t)a yang rilis pada tahun 2009 yang lalu. 

Meski mengangkat tema yang mainstream, tetapi perjalanan kedua tokoh utamanya di dunia berbeda, membuuat film ini jadi punya warna baru.

Ngomongin tentang cinta beda agama memang cukup berat. Peliknya hubungan cinta antara dua manusia yang beda cara berdoa ini memang jadi satu cerita yang seringkali membuat air mata jadi tak terbendung.

Dalam film ini, kepelikan tersebut digambarkan bukan hanya pada saat mereka masih hidup, tetapi juga saat mereka sudah menjadi arwah. Diceritakan bahwa Tari dan Timur yang beda agama, pada akhirnya akan bermuara pada akhirat yang berbeda.

Tari dan Timur sudah mencoba, tetapi jalannya memang tidak semudah yang dibayangkan. Mereka mungkin bisa saja tetap bertahan bersama di dunia arwah, tetapi sampai kapan? Toh, selama mereka bersembunyi, rasa gelisah itu akan selalu ada.

Selama hidup di dunia manusia, mereka tahu betul apa saja masalah yang harus mereka hadapi karena menjalani cinta beda agama. Orang tua mereka juga sudah memberi peringatan. Namun, rasa cinta yang telanjur kuat membuat mereka jadi seperti tidak mau tahu.

Sekali lagi, perihal cinta beda agama itu memang rumit, sangat rumit. Namun, yang menyenangkan dari film ini adalah, film ini tidak begitu menonjolkan satu agama saja. Dalam artian, film ini bukan film religi ataupun film rohani. Film ini berupaya menggambarkan cinta beda agama dalam bentuk yang lebih umum.

Lebih jauh, melalui penggambaran dunia antara dunia arwah dan dunia manusia, saya pribadi merasa diajak untuk merenungkan akan apa arti kematian. Terlebih setelah melihat arwah-arwah yang ditemui oleh Tari dan Timur. 

Misalnya sosok Om Wang yang menolak masuk ke dunia akhirat dan memilih tetap tinggal di dunia antara arwah dan manusia, karena merasa ia masih harus menjaga anaknya yang menyandang disabilitas. Secara nyata, ia telah meninggal, tetapi ia belum siap untuk benar-benar pergi.

Sayangnya, tema menarik yang diangkat dalam film ini tidak begitu didukung dengan unsur lainnya. Misalnya, dialog pemainnya yang terlalu kaku. Sampai film ini berakhir, saya belum bisa merasakan chemistry antara Adipati dan Della. Selain itu, film ini juga terasa nanggung. 

Nanggung sedihnya, nanggung juga komedinya. Hal-hal seperti tiba-tiba Om Wang naik mobil padahal lagi di dunia berbeda itu rasanya terlalu garing kalau tujuannya untuk jadi lucu-lucuan. Adegan ketika kakeknya Tari tiba-tiba berdiri pun jadi adegan yang membingungkan bagi saya. Tujuannya apa, sih, ada adegan itu? Kalau untuk mendramatisir, rasanya terlalu dipaksakan.

Pada akhirnya, menonton film ini memang menghadirkan sensasi berbeda karena warna baru yang coba diangkat untuk film bertema cinta beda agama. Visualisasi yang keren dan soundtrack yang enak didengar juga jadi paduan yang menyenangkan selama menonton film ini. Sayangnya, karena alur cerita yang di pertengahan sempat terasa membosankan, dialog kaku antarpemain, serta rasa sedih dan komedi yang terkesan nanggung membuat film ini jadi terasa kurang maksimal.

Kalau kalian sering mendengar atau membaca kalimat yang menyebutkan bahwa pernikahan itu bukan cuma tentang cinta, film ini juga menggambarkan akan hal itu. Untung endingnya, ya, masih standar sih. Saya terharu karena pengorbanannya Timur, tetapi nggak kaget juga melihat nasib hubungan Tari dan Timur.

Seperti yang banyak orang bilang, LDR terjauh itu adalah hubungan cinta yang berjarak karena perbedaan posisi tangan saat berdoa. Benar, nggak?

Ikuti review film Penyalin Cahaya juga di sini yuk!



Author :

Seorang ibu yang suka membaca dan sedang belajar menulis. Blasteran Jawa-Toraja, yang bisa disapa lewat IG dan Twitter @utamyyningsih

Post a Comment

Previous Post Next Post