Ngegame itu ngerusak tau? Kamu ngga tau ya ada anak yang kecanduan game sampai dia mati di warnet tuh? Mau jadi apa kamu ngegame terus?

Kalimat itu sering sekali saya dengar dari teman-teman sesama gamers yang sedang diberi petuah oleh orangtuanya. Dulu saat saya masih duduk di bangku SMA, bermain game adalah salah satu hobi yang ditentang orangtua.

Tidak hanya saya, orangtua lain pun mungkin banyak yang begitu. Mereka beranggapan game adalah setan paling nyebelin yang akan merusak masa depan anak-anak mereka. Game tidak sepatutnya diberi ruang dalam kehidupan anak-anaknya.

lead by indihome

Padahal andai mereka tahu justru dari game saya menyukai Bahasa Inggris dan nyaris mendapatkan nilai sempurna di Ujian Nasional. Andai mereka tahu justru dari game saya bisa mengetik cepat (sekarang berguna banget karena saya suka nulis). Andai mereka tahu justru dari game saya belajar untuk menjadi pemimpin.

Tapi ya, orangtua zaman dulu mana tahu sih? Akses mereka ke internet pun juga jarang. Belum ada smartphone yang bisa digunakan dengan cepat untuk mengakses informasi dan kebenaran sebuah berita.

Dulu Dicaci Sekarang Dipuji

Anak gamers tahun 2000-an mungkin mengalami hal yang sama seperti saya. Dulu dicaci karena kerjaannya ngegame. Ngabisin duit ke warnet. Hehehe.. 

Padahal dulu saya juga sempat punya penghasilan dari jual beli item di game. Pernah suatu kali saya mendapat sekitar 2jutaan karena seseorang membeli karakter saya dalam sebuah game. Tahun 2008 atau 2009, kebayang kan uang segitu jadi jumlah yang cukup besar. Apalagi dipegang oleh anak umur 18 tahunan. 

Namun orangtua tetap saja tak mau peduli. Karena tahunya anak gadisnya main ke warnet sampai sore. Bahkan hari libur pun dihabiskan untuk duduk di depan layar komputer. Sayang sekali saya dulu belum bisa berlangganan internet di rumah. Kalau ada internet di rumah, mungkin orangtua saya lebih tenang.

academy esport

Anak sekarang pun kebanyakan kalau ditanya juga maunya jadi Youtuber, influencer, atau melakukan sesuatu dari hobi lalu dibayar. Termasuk saya.

Bagaimana anak gamers sekarang? Beda banget dong, dan saya bersyukur untuk itu. Tentu terimakasih banget karena sekarang pun teman-teman yang hobi ngegame jadi punya wadah, sehingga mudah untuk dibina serta diarahkan kemampuannya.

Meskipun masih banyak juga orangtua yang punya anggapan sebelah mata, justru disitulah tantangannya. Kalau gamers bisa membuktikan bahwa bermain game adalah salah satu hobi yang bisa menghasilkan, apakah orangtua akan terus berpikir negatif tentang itu? Kalau gamers bisa membuktikan bahwa ia bisa berprestasi, maka tak ada alasan kan untuk melarang bermain game?

Bahkan tak sedikit juga lho kini orangtua dari generasi Z dan alpha yang sudah mulai terbuka dengan pola pikirnya. Tidak sama dengan orangtua yang lahir di zaman kolonial, orangtua generasi Z dan alpha sekarang memahami bahwa bermain game juga menjadi salah satu e-Sport yang sudah diakui oleh Indonesia.

Tak jarang pula pujian demi pujian membanjiri kanal Youtube seorang gamers karena kemampuan koordinasinya bersama team, kecepatan refleks tangannya, serta bagaimana ia mengatur strategi. Karena lewat game, kami bisa belajar banyak hal yang mungkin tak bisa ditemui di luar sana.

Bagaimana Game Online Bisa Menjadi Salah Satu Olahraga Elektronik/eSport?

athlete enablement
Sudah lama sebenarnya saya ingin menyuarakan betapa game tidak bisa hanya dipandang sebelah mata. Saya ingin memberikan informasi serta edukasi pada teman-teman khususnya juga masyarakat pada umumnya tentang eSport itu sendiri.

Bahwa mereka dan saya yang bermain game bukanlah seorang “pecandu” yang tak bisa berprestasi.

Diantara teman-teman juga orangtua yang khawatir karena anaknya punya passion bermain game dan ingin sukses di bidang tersebut mungkin masih sangsi :

Kok bisa sih game online dimasukkan ke dalam eSport?

Dalam sejarahnya, memang sebelum tahun 2020 lalu eSport belum digarap secara serius oleh Pemerintah maupun BUMN. Padahal semenjak masuknya Internet of Things (IOT), hal-hal sederhana pun masuk ke dalam kehidupan kita. Termasuk di dalamnya adalah game itu sendiri.

Tadinya orang yang ingin bermain game online harus ke warnet, membayar billing dan tentu saja menghabiskan lebih banyak biaya dibanding sekarang. Itulah hal yang dulu saya lakukan. Saat ini, bermain game online cukup melalui gawai yang kita punya.

Tidak perlu gawai dengan harga selangit yang hanya bisa dibeli oleh konglomerat. Bahkan gawai sehari-hari saja sudah cukup.

Kemudian di saat yang sama, Indonesia ternyata juga sudah mencetak prestasinya di kancah internasional. Game mayor seperti Mobile Legends, Wing Fair, PUBG mobile, semua jenis game tersebut telah dijuarai oleh Indonesia dalam persaingan di seluruh dunia.

Ketika banyak orang yang melihat keberhasilan mereka yang bermain game dan mendapatkan banyak keuntungan materiil inilah kemudian kita baru menyadari bahwa bermain game tidak selamanya buruk jika diatur porsi dan strateginya.

Maka tidak berlebihan jika bermain game online yang mengedepankan strategi serta team work juga kecepatan gerak refleks pada jari-jari tangan kita disetarakan dengan olahraga sejenis bulu tangkis, sepak bola, dan juga voli. Lalu muncullah eSport yang diiringi dengan terbentuknya camp-camp pembinaan bagi mereka yang memiliki passion dan bakat di bidang ini.

Ini Manfaat eSport untuk Tubuh Kita

Saya memahami bagaimana orangtua khawatir ketika anaknya bermain game terlalu sering dan mulai meninggalkan kegiatan akademiknya. Persis seperti apa yang dulu saya rasakan.

Namun, ketika sekarang sudah menjadi orangtua dan merasakan juga bagaimana menjadi seorang anak yang tumbuh bersama internet dan game, tentu saya ingin melarang anak karena alasan yang memang benar dan masuk akal. Bukan hanya berdasarkan rumor “katanya” dan berita yang tidak berimbang, karena hanya ditulis dari satu sisi saja.

Yuk mulai saat ini kita membuka diri untuk mendapat wawasan yang seluas-luasnya. 

Berikut beberapa manfaat eSport untuk tubuh kita sebagaimana yang telah disebutkan oleh Coach Henov, Head Coach LEAD by IndiHome :

1. Mengoptimalkan Kerja Otak Kanan

Jika kita mau membuka diri, telah banyak penelitian yang menyatakan bahwa bermain game online dapat mengoptimalkan kerja otak kanan. Apalagi jika di dalam game itu sendiri ada team work dan juga strategi berpikir yang diperlukan agar bisa menang.

aktivitas tanpa batas

Jika tidak ada manfaatnya, tidak mungkin KONI akhirnya menyatakan bahwa eSport masuk ke dalam salah satu cabang olahraga bukan?

Sama halnya dengan Formula 1. Kenapa masuk ke dalam salah satu cabang olahraga? Padahal Formula 1 juga tidak mengeluarkan keringat, begitu juga dengan kendaraan yang dipakainya bukanlah makhluk hidup seperti pacuan kuda misalnya.

Alasannya sederhana saja, karena balapan Formula 1 pun ada toolsnya. Sebagaimana stick Plays Station atau Nintendo. Mirip ketika kita sedang bermain game. Perbedaannya hanya pada tampilan aktual dan juga virtualnya.

2. Melatih Kecepatan Berpikir dan Reaksi

Ada poin fisik yang ada di sana (olah dan raga) yakni adanya reaction time (kecepatan yang ada di otak kemudian diekspresikan lewat saraf menuju anggota badan kita). Inilah yang kemudian menuntut adanya sinkronisasi otak ke jari, otak ke lengan, dan seterusnya. Sinkronisasi dari otak ini kemudian digerakkan ke kemudia (jika pada Formula 1).

Kecepatan reaksi ini juga dipengaruhi oleh kesehatan tubuh dan juga mielin. Mielin selain berfungsi untuk membungkus dan melindungi akson, peran yang utama adalah untuk mempercepat arus informasi melewati jutaan, milyaran sampai trilyunan sel saraf di otak kita.

Bahkan ada juga team eSport luar negeri yang mengunyah brokoli mentah (untuk mempercepat reaction time-nya).

Ada juga yang mengadopsi olahraga Craft mage (bela diri orang-orang Israel yang benar-benar menentukan reaction time dan meningkatkan reaction time itu sendiri). Jadi intinya kesehatan dari mereka (pemain eSport) ini menentukan optimalisasinya ketika bermain game.

Inilah yang menjadikan LEAD by IndiHome maju, memberikan kesempatan bagi mereka yang ingin menjadi Atlet eSport Profesional.
Dyah Rasyida Srikandi Gamer IndiHome

Dukungan IndiHome, Internetnya Indonesia Untuk Athlete Enablement

Sayangnya dulu kami belum punya tempat untuk mengasah dan juga melatih passion dari game yang kami mainkan. Jadi ayah dan ibu saya sangsi juga pastinya. Mau jadi apa kalau ngegame terus? Begitu pikir mereka. Padahal saya mendapatkan banyak hal dari sana.

Tapi orangtua pun tak bisa disalahkan sepenuhnya, karena ketidaktahuan mereka. Inilah yang menjadi momen bagi saya untuk memberikan edukasi bagi orangtua agar tidak semerta-merta memberikan label pada anak-anak yang menyukai game dan berpikir serius untuk menekuninya.

Beruntung sekali suami saya tidak pernah melarang istrinya bermain game. Namun tetap saja, stigma negatif tentang game di luar sana masih belum banyak berubah dari dulu hingga kini. Ini nih tugas kita sebagai blogger.

Game ibarat pisau, jika digunakan sesuai dengan fungsinya maka ia akan bermanfaat bagi penggunanya. Sebaliknya, jika digunakan tidak sesuai dengan fungsinya (menyakiti diri sendiri maupun orang lain misalnya), maka ia pun tidak punya value sama sekali.

Begitu juga dengan game.

Padahal sudah banyak fakta di depan mata kita bahwa eSport yang dimainkan oleh generasi anak-anak kita saat ini justru menjadi salah satu jenis olahraga yang sudah disahkan oleh KONI.

Tentu saja saya senang sekali mendengar hal tersebut. Itu artinya edukasi tentang game lambat laun sudah mulai diterima oleh masyarakat Indonesia. Bahwa dalam porsi yang sesuai, game tidak melulu merugikan. Bahkan ia bisa menjadi salah satu sumber penghasilan saat ini.

Tentu teman-teman pernah mendengar bagaimana atlet-atlet eSport mendapatkan banyak uang dari hasil kerja kerasnya bermain game bukan? Hal ini nyata terjadi lho. Bahkan tidak hanya di Indonesia, dunia pun sudah mengakuinya bahwa bermain game online (tertentu) merupakan salah satu macam eSport yang perlu didukung. Hingga banyak sekali turnamen internasional yang diadakan.

Bersama Dyah Rasyida, Srikandi Gamer IndiHome beliau memberikan penjelasan tentang bagaimana peran dan dukungan Telkom bagi ekosistem eSport melalui LEAD by Indihome. Apa sih LEAD by Indihome itu?

Limitless Esport Academy (LEAD) by IndiHome merupakan akademi eSport dengan konsep athlete enablement, yaitu memberdayakan seorang gamer (player) yang semula bermain game sebatas hobi, menjadi professional player (pro player) yang bermental atlet. Dengan mengusung semangat #BerlatihTanpaBatas, LEAD by IndiHome diharapkan dapat melahirkan the next eSport athlete Indonesia yang mampu berkiprah di kancah Internasional.

Kalau dulu ibu dan ayah saya khawatir karena mungkin saya tidak akan pernah menjadi “siapa-siapa” sebab hobi ngegame, untuk saat ini saya sebagai orangtua saya tentu tidak akan khawatir jika anak-anak kelak ingin menjadi atlet eSport. Atlet eSport yang ternyata punya banyak sekali manfaat jika dilakukan dengan serius.

Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Coach Henov sebagai Head Coach LEAD by Indihome, bahwa ada banyak sisi positif yang bisa didapatkan ketika menekuni eSport. Sebagai orangtua kita boleh kok khawatir, namun kita tidak boleh menutup mata atas perkembangan dunia di era 5.0 ini.

Ketika kita mendengar begitu banyak suara sumbang dari pemberitaan mengenai efek negatif bermain game, mulai dari hancurnya masa depan anak-anak karena bermain game, kita lupa bagaimana efek negatif itu ditimbulkan oleh ketidakmampuan diri untuk mengontrol sesuatu.

Sebagai anak, mungkin ia terlalu banyak memberikan waktunya untuk bermain game. Berjam-jam dalam sehari, berharap ingin menjadi ahli. Namun yang ia dapatkan malah collaps. Orangtua tak sepenuhnya salah sih. Hal tersebut terjadi karena tidak ada pembinaan untuk mereka. Karena tidak adanya pembinaan inilah yang menyebabkan esport dianggap sebagai satu hal yang berbahaya.

Oleh karena itulah LEAD by Indihome merasa perlu untuk membina, mendidik dan melatih talenta-talenta baru atlet eSport agar menjadi seorang atlet eSport yang tangguh dan berkarakter. Mereka juga berkesempatan besar untuk berkarya dan mengharumkan nama bangsa di berbagai ajang turnamen eSport tingkat nasional bahkan internasional.

Tentu saja dengan meminimalkan risiko yang terjadi tersebut dengan tetap memelihara kesehatan dan juga memberi jeda untuk otak dan saraf beristirahat.

Sebagai Internetnya Indonesia, IndiHome ingin memberikan wadah bagi generasi muda di manapun mereka berada agar dapat menyalurkan hobi bermain game menjadi sebuah profesi yang dapat mengharumkan nama Indonesia di kancah global.


Informasi lebih lanjut, teman-teman dapat mengunjungi media sosial @IndiHome dan @LEADIndiHome.

Aktivitas Tanpa Batas dari IndiHome bagi Ekosistem eSport

Bagi gamer professional, e-Sport sudah menjadi bagian dari produktivfitas yang tak terpisahkan dalam keseharian mereka. Oleh sebab itu, untuk mendukung perkembangan dan kemajuan dunia e-Sport di Indonesia, IndiHome Paket Games ada untuk teman gamers semua.

Kita pun bisa melakukan aktivitas tanpa batas bersama IndiHome untuk mengasah skill game kita.

Informasi lebih lanjut Paket Gamer agar bisa melakukan aktivitas tanpa batas bersama IndiHome bisa diakses di sini ya : https://indihome.co.id/promo/paket-gamer

Bagaimana? Masih sangsi dengan manfaat eSport dalam kehidupan kita saat ini?

Yuk kita bangun ekosistem gamers yang sehat. Tidak berlebihan, namun tetap kita arahkan. Karena bagaimanapun perkembangan teknologi saat ini tidak bisa kita hindari. Tugas kita sebagai orangtua adalah mengarahkan agar anak-anak yang memiliki passion di bidang ini dapat berkembang sesuai dengan bakat dan juga ketekunannya.

Kapan lagi kan wujudkan dari rumah mimpi para pro player menjadi eSport atlet? Yuk dukung bareng-bareng bersama Internetnya Indonesia!

Oh iya bagi teman-teman pemain Mobile Legends, bisa juga lho mendaftar di ajang beat the best by blu!


5 Comments

  1. Sekarang orang ngegame emang gbisa di pandang sebelah mata ya. Bisa jadi dia nanti jadi atlet esport. Aku sebagai orangtua Sekarang gak kaku2 banget sih. Kalau emang itu jadi pilihan anak aku nantinya.

    ReplyDelete
  2. Yang jadi pertanyaan saya, kira-kira game jenis apakah yang menjadikan candu dan kudu dihindari, sebab aku sendiri masih ada stigma negatif dengan game. Walaupun terkadang sesekali main game.

    ReplyDelete
  3. Tapi memang kalau nggak waspada, bisa jadi lupa waktu dan segalanya ya main game tuh. Jadi tetep harus mindful saat main game.. dan beres kerjaan lain2nya. Keren sih sekarang banyak yang berprestasi lewat game... dan harus thanks to Indihome yang sudah membuat semuanya jadi lebih mungkin, lebih cepat dan lebih keren.

    ReplyDelete
  4. seorang gamer harus pandai memanage waktu. Mungkin yang dilihat negatifnya karena banyak yang nggak melaksanakan kewajiban ketika harus melakukan kewajiban. Harus komitmen dengan jadwal harian. untung ada Indihome yang mendukung esport Indonesia

    ReplyDelete
  5. Sampai sekarang pun game masih jadi dua sisi mata uang bagi orang tua. Terutama karena kami takut anak2 kecanduan game. Kecuali mereka sudah tahu batas dan bisa bertanggung jawab. Makanya penting banget supaya ada pembinaan dari ahlinya termasuk dari Telkom

    ReplyDelete

Post a Comment

Previous Post Next Post