Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review Film Toy Story 5, Isi Liburan Anak-Anak dengan Pesan Mendalam

Toy Story 5 adalah salah satu film yang kami tunggu-tunggu sekeluarga. Sejak anak saya nonton filmnya mulai dari Toy Story 1 sampai 4, ia masih terkesan dengan mainan-mainan yang ada di sana. Terlebih Jessie dan Bullseye. 

Kalau dulu Toy Story 1-4 diisi dengan tantangan imajinasi anak-anak, kini di Toy Story 5 jalan ceritanya sungguh sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kami. Yaitu realita bahwa kita disibukkan dengan gadget masing-masing yang menjadi kesenangan sekaligus tantangan yang tak mudah ditaklukkan.

Buk? Itu di Poster Kataknya Siapa Ya? Jahat Ya?

film toy story 5
source : Toy Story 5 instagram

Ingat sekali saat poster Toy Story 5 rilis dan ada katak besar hijau yang tampak akan memakan mainan-mainan seperti Woody, Buzz, Jessie, Bullseye, Fork, Rex, Anjing Slinky, Potato Head, dan lainnya. Saya juga bertanya-tanya, oh apakah tokoh antagonisnya kali ini mainan katak? 

Namun begitu duduk di bioskop, lampu dimatikan dan cerita mulai bergulir, saya sadar bahwa yang dimaksud katak tersebut adalah sebuah perangkat pintar yang menghubungkan anak-anak melalui permainan di dunia maya. 

Bonnie yang awalnya suka sekali dengan mainan tradisionalnya, Jessie dan kawan-kawan, kini mulai melihat realita bahwa teman-teman di sekitarnya sudah tidak memainkan itu. Mereka sibuk dengan gawai masing-masing. Bahkan mereka menganggap Bonnie anak yang aneh karena masih memainkan permainan tradisional itu.

Karena orangtua Bonnie tidak ingin membuatnya berlarut-larut sedih dan tidak punya teman, akhirnya orangtua mereka pun membelikan Bonnie Lilypad. Sebuah smart tablet yang dirancang untuk anak-anak agar bisa bermain sesuai usianya di dalamnya. Selain itu di dalam Lilypad juga ada ruang obrolan anak-anak yang bisa menghubungkan Bonnie dengan teman-teman sekolah maupun tempat kursusnya.

Bonnie sangat ingin berteman dan bermain dengan mereka semua, sehingga ia berusaha keras untuk bisa mengimbangi teman-temannya dengan terus bermain Lilypad dari pagi sampai ketemu pagi lagi.


Bonnie berubah sejak tahu bahwa Lilypad adalah satu-satunya alat yang bisa membuatnya memiliki banyak teman. Namun siapa sangka justru karena itulah Bonnie jadi kehilangan "kesenangannya". Ia tak lagi bahagia ketika bermain, ia hanya mengejar target agar tidak tertinggal permainan dengan teman-temannya. 

Saat itulah Bonnie kehilangan Jessie dan Bullseye.

Lilypad, si katak yang bersikeras akan menyingkirkan Jessie dan kawan-kawannya pun perlahan mulai tersadar bahwa Bonnie sedih karena ia tak bisa membuat teman-teman Bonnie menyukai Bonnie apa adanya.

Akankah Anak-Anak Bisa Kembali Bermain Seperti Dulu?

Ya, tidak hanya kita yang sudah sibuk dengan smart phone, anak-anak juga.

Realita ini membuat saya sedih. Fenomena yang ditampakkan di setiap keluarga adalah ketika Ayah Ibu mereka sibuk dengan gawai, lalu agar anaknya tidak ketinggalan zaman, banyak teman, dan punya pergaulan yang luas, gawai adalah solusi yang mereka berikan.

Sehingga mainan-mainan tradisional mulai meringkuk di gudang, bahkan didonasikan. Mereka tidak lagi bermain secara nyata, berhadapan dengan teman-teman dan ngobrol tanpa mengetuk layar.

Padahal mainan-mainan ini membuka imajinasi mereka, mewadahi kreativitas tanpa batas khas anak-anak yang mereka ciptakan karena keterbatasan. Namun justru karena keterbatasan itulah mereka saling terkoneksi, bermain sambil menyentuh dan menatap satu sama lain, merasakan emosi kebahagiaan yang tak akan bisa digantikan oleh koneksi internet.

Setelah nonton Toy Story 5 ini saya jadi bersyukur anak saya masih diberi ketertarikan untuk bermain sesuai kreasinya sendiri. Boneka memang sudah tidak lagi menarik baginya, namun ia masih berkreasi bersama teman-teman dan sepupunya untuk membuat paper doll lalu bermain peran, membuat squishy sendiri, membuat bangun ruang dari kertas dan kardus, sampai menulis jurnal harian yang dipenuhi stiker dan spidol warna-warni.

Hidup memang terus maju dan orang yang tidak mau mengikuti perkembangan zaman akan tertinggal. Namun ada waktu dimana kita bisa kok berhenti di satu waktu untuk jadi diri sendiri, menyelami apa yang kita inginkan dan membuat kita bahagia seperti di masa lalu saat belum ada internet. Tidak ada salahnya kita kembali memainkan permainan tradisional, pun juga tidak ada salahnya bagi kita untuk bermain dengan smartphone, asal tahu batasan.

Toy Story 5 Wajib Ditonton Bareng Anak-Anak

toy story 5
Bonnie dan teman barunya, Blaze. (dok.pri)

Saya bersyukur kemarin bisa mengajak anak bersama suami untuk nonton film Toy Story 5 ini. Karena akhirnya dalam perjalanan pulang kami terlibat percakapan mendalam. 

Bahwa anak-anak harus tahu batasan. Pun dengan orangtua yang menjadi teladan bagi anak-anak di rumah. Keseimbangan antara waktu bersama layar dengan waktu di dunia nyata harus selalu terjaga karena manusia adalah makhluk sosial yang pada dasarnya memang harus berinteraksi satu sama lain. Tidak hanya melalui perangkat, tapi juga saling terkoneksi secara nyata agar kita tidak kehilangan ruh sebuah pertemuan dan perbincangan dengan saling menatap wajah teman kita.

Bahwa anak-anak harus tetap terlibat dengan aktivitas fisik setiap hari. Anak saya pun menyetujuinya, dan tidak ingin seperti Bonnie yang kehilangan waktu tidurnya, kehilangan waktu berkualitas di meja makan bersama Ayah Ibunya, dan juga kehilangan mainan kesayangannya karena takut tidak punya teman.

Film Toy Story selalu sukses mengaduk-aduk emosi, baik bagi anak-anak yang baru mengenal Woody dan kawan-kawan, maupun bagi orang dewasa yang tumbuh besar bersama mereka sejak tahun 1995. Namun menurut saya Toy Story 5 adalah sekuel terbaiknya. 

Bagi kita, orangtua atau orang dewasa yang tumbuh bersama Andy, menonton Toy Story 5 rasanya bukan sekadar hiburan, tapi seperti melihat refleksi dari perjalanan hidup kita sendiri. Di tengah gempuran dunia digital dan teknologi (seperti yang dihadapi Woody dan kawan-kawan di film ini), kita sering kali dipaksa untuk terus bergerak cepat dan melupakan hal-hal sederhana yang pernah membuat kita bahagia.

Film ini kembali mengetuk hati kita dengan sebuah pesan mendalam:

  • Menghargai Koneksi Nyata: Di era di mana semua hal serba online dan instan, kehadiran fisik, pelukan hangat, dan hubungan emosional yang tulus tetap menjadi hal yang paling berharga.

  • Berdamai dengan Perubahan: Melepaskan masa lalu atau fase hidup yang lama memang tidak pernah mudah. Namun, Toy Story selalu mengingatkan kita bahwa setiap akhir dari sebuah babak adalah awal dari petualangan baru yang tidak kalah indahnya.

  • Merawat "Sisi Anak-Anak" dalam Diri: Menjadi dewasa sering kali melelahkan. Tapi sesekali, tengoklah ke belakang. Ingat kembali tawa polos kita dulu, dan izinkan diri kita untuk tetap memiliki ruang imajinasi dan ketulusan di tengah kerasnya dunia.

Terima kasih sudah bertahan dan berjuang sejauh ini yaa, terimakasih untuk kita yang sudah tumbuh dengan baik hingga dewasa. Tugas kita sekarang adalah meneruskan keajaiban itu, baik untuk diri kita sendiri, maupun untuk anak-anak kita yang kini mulai merajut memori masa kecil mereka sendiri.

“You’ve got a friend in me,” dulu, sekarang, dan selamanya.

toy story 5

Terimakasih Toy Story 5!


Han
Han Lebih suka dipanggil Han ketimbang Lohan. Menikmati sebagai penuntut ilmu sejati. Blogger cupu yang punya mimpi seperti bos kapanlagi

Post a Comment for "Review Film Toy Story 5, Isi Liburan Anak-Anak dengan Pesan Mendalam"