A97Cn1YSfpSggZALdsWhvytH7KM7jSKgq3yFnxAO

Curhat Soal Guru Offline dan Guru Online, Dibalik Hilangnya Adab

Istilah guru offline dan guru online ini saya dapatkan ketika membaca sebuah buku berjudul Islamku, Islammu, Islam Kita karya Edi Ah Iyubenu. Bukan masalah baru sebenarnya, tapi jika dikaitkan dengan tindak terorisme yang akhir-akhir ini terjadi, masih relevan lah.

guru offline dan guru online


Dimana Sebenarnya Masalahnya?

Saya sepakat dengan pendapat Pak Edi dalam buku tersebut. Tidaklah sama mengaji dan belajar Islam via internet dengan belajar langsung di darat, di hadapan seorang guru yang nyata alias offline.

Setelah punya pengalaman ngaji offline dan rutin atau yang biasa disebut dengan mulazamah selama kurang lebih tujuh tahun terakhir, saya memiliki banyak pertimbangan mengapa enggan mengaji secara online. Kalaupun harus dan terpaksa karena pandemi, saya harus tetap melaksanakan kegiatan tersebut dengan adab dan tata tertib sebagaimana ketika mengaji secara offline.

Majunya teknologi tidak menjamin bagaimana adab dan akhlak generasi zaman sekarang akan lebih baik dibanding generasi terdahulu. Bahkan sedihnya, ada banyak kecenderungan batin untuk menyatakan diri ini yang paling hebat, kelompok ini yang paling benar, madzhab ini yang paling baik dan lain sebagainya.

Selama tujuh tahun berguru pada satu guru yang sangat saya kagumi keilmuan, adab dan akhlaknya, saya menyadari makin kesini teknologi makin membuat tubuh ini malas. Saya merenung dan merefleksikan kegelisahan saya tentang pertanyaan-pertanyaan mendasar yang belakangan ini mengusik hati saya sebagai seorang murid.

Mengapa umat Islam begitu kesulitan mengedepankan ukhuwah diantara keragaman paham, pandangan, madzhab yang notabene adalah sebuah sunnatullah dan karenanya mustahil untuk dipaksakan seragam?

Mengapa kecenderungan batin untuk menyatakan paham dan madzhab diri sendiri ini yang paling benar dan sulit diimbangi dengan sekadar memberikan penghormatan yang pantas kepada orang lain, kelompok lain, paham lain, amaliah lain yang berbeda, yang tentunya juga meyakini dirinya benar?

Mengapa kita lebih gemar menyatakan bahkan dengan vulgar dan terbuka, pandangan kita benar, pandangan orang lain salah dan sesat; amaliah kita yang sesuai dengan tuntutnan AlQuran dan Sunnah Rasulullah dan amaliah orang lain adalah kesesatan yang mencelakakan, sehingga rawan memantik perselisihan dan ketegangan?

Begitulah fakta persoalannya. Relasi sosial diantara kita semua, agama kita, dan bangsa kita.

Sebenarnya apa sih masalahnya?

Saya memang tidak bisa menyuguhkan data. Namun yang saya bicarakan tentu menjadi masalah sosial bagaimana adab dan akhlak ini pelan-pelan menghilang dan tak terukur kapan hilangnya. Namun perlu kita sadari sebelumnya bahwa menjadi manusia yang merasa paling benar sendiri adalah salah satu fase menuntut ilmu yang sudah disebutkan sejak zaman Salafus Shalih terdahulu.

Tingkatan Manusia yang Menuntut Ilmu

Jadi ketika kita berbicara tentang menuntut ilmu (baik itu agama maupun ilmu yang lainnya), kita akan tahu ada di tingkat mana kita saat ini.

Ada tiga tahapan para penuntut ilmu menurut Sayyidina Umar bin Khattab radhiallahu anhu,

 "Menuntut ilmu ada tiga tahapan. Jika seorang memasuki tahapan pertama, ia akan sombong. Jika ia memasuki tahapan kedua, ia akan tawaduk. Dan jika ia memasuki tahapan ketiga, ia akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya."
1. Tahap kesombongan

Disadari atau tidak, di antara kita pasti pernah merasakan kesombongan karena ilmu. Sombong dalam mencari ilmu ini misalnya saat kita mendengar sesuatu yang baru, lalu kemudian sudah merasa sangat memahaminya, padahal belum mendalami sepenuhnya.

Sombong dalam mencari ilmu harus kita hindari karena yang pantas untuk sombong hanya Allah yang Maha Mengetahui. Rasulullah bersabda, "Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.' (HR. Muslim)

2. Tahap tawaduk

Tawaduk adalah rendah hati. Saat seseorang sudah semakin banyak ilmunya, biasanya ia akan semakin rendah hati dan lebih bijak dalam menyikapi suatu masalah. Analogi umum dalam menggambarkan fase pencari ilmu ini adalah pertumbuhan padi, yakni semakin berisi semakin merunduk.

3. Tahap tidak tahu apa-apa
Pada tahap terakhir, ketika seseorang sudah memiliki banyak ilmu, maka ia akan merasa tidak tahu apa-apa. Pada fase ini, seseorang akan sadar bahwa ilmu yang diberikan Allah tidak ada habisnya.

Jadi siapa saya kalau mengklaim bahwa ilmu saya yang paling benar? Kelompok kami yang paling hebat? Orang berilmu di tingkat dua atau tiga, tidak akan pernah seperti itu.

Ini juga menjadi salah satu nasihat dari guru saya. Ketika ada orang merasa dirinya paling benar dan hebat, acuhkan saja. Kita tidak punya waktu untuk meladeni anak TK kan? Yang selalu merasa dirinya paling benar dan yang lainnya salah. Berpikiran sempit, tidak terbuka terhadap gagasan atau pendapat orang lain.

Begitulah, kita hanya akan membuang-buang energi.

Namun demikian, tidak hanya faktor tingkatan ilmu saja, tapi sikap seperti katak dalam tempurung itu juga bisa jadi disebabkan oleh kesalahan dalam memilih guru. Kita bahas soal guru yuk.

Guru Online dan Offline

Mengutip dari tulisan Pak Edi, saya sependapat bahwa :

Sebagai sebuah proses pematangan rohani, usaha memegang Islam yang kaffah, menjadi Muslim yang hanif, buahnya kemudian jelas sangatlah bergantung kepada siapa guru yang (lebih banyaknya) "kebetulan" kita jumpai dan ikuti. Termasuk guru-guru online itu

Sehingga tidak heran jika kita mendapati sebuah kabar bahwa terduga terorisme yang ditangkap Densus 88 itu berawal dari gurunya. Barulah kemudian murid-muridnya. Semata-mata karena guru lah kunci menyebarnya sebuah ajaran.

Kalau kata orang, "kamu adalah siapa gurumu" seperti "kamu adalah buku yang kamu baca".

Berguru pada guru-guru virtual memang lebih praktis. Hanya tinggal klik link-link yang beredar melalui whatsapp group maupun hasil pencarian di internet.

Prinsipnya, kita akan menjadi seperti guru yang kita ikuti jika kita belajar pada guru virtual tanpa punya usaha untuk membandingkan, menanyakan, menelusuri, serta mendalami jejak rekam para guru yang kita baca atau tonton.

Jika kita melakukan mekanisme tersebut kemudian akan terbangunlah kritisisme pada diri kita. Tentu saja kita tidak akan semudah itu mengangkat seseorang sebagai guru spiritual. Kita akan mendapati kejelian ekstra untuk menelisik dengan detail, butuh waktu untuk menyelami siapa sosok tersebut. Bagaimana integritasnya, bagaimana kontribusinya untuk umat selama ini, hingga apa yang menjadi landasan pemikiran dan (jika ada) ideologisnya, dan sebagainya.

Paling tidak seperti itulah yang harus kita lakukan ketika dunia banyak membicarakan tentang Islam. Agar nantinya kita bisa mengantongi pemahaman berIslam yang lebih bisa dipertanggungjawabkan orotitasnya. Hasilnya, hidup menjadi lebih kondusif kan.

Guru Offline

Jika teman curhat sedang mengaji pada salah seorang guru, dulu hingga kini, tentu ada adab-adab dan aturan yang diberlakukan sebelum memulai pelajaran kan. Misalnya saja tidak boleh terlambat, duduk dengan benar, berwudhu sebelum masuk masjid (karena biasanya dilakukan di masjid), hingga tidak diperbolehkan menyalakan ponsel.

Hal ini menjadi sesuatu yang lumrah. Bahkan ketika kita belajar di sekolah maupun di kampus pun aturannya tetap sama. Pakaian harus sopan, tidak boleh terlambat, tidak mengangkat kaki ke atas meja, dan lain sebagainya.

Coba dibandingkan ketika kita belajar ngaji secara online. Mempelajari tentang bab Sejarah Kemuliaan Rasulullah via gadget. Kita bisa saja kan dalam keadaan tak memakai baju yang sopan, celana pendek, ongkang-ongkang kaki, atau baru melek dan belum sempat mencuci muka, apalagi berwudhu! Bahkan bisa sambil duduk di atas kloset.

Kalau ngaji nya offline, mana bisa seperti itu?

Kita pasti akan memberikan perhatian khusus pada guru, duduk dengan baik, menundukkan pandangan, dan sampai di sini sejatinya kita berlatih untuk menerapkan langsung manner atau akhlak itu sendiri.

Kalau online, mana ada fitur akhlak begituan?

Tentu saja ini kembali pada masing-masing pribadinya. Ada juga yang berguru secara online sambil tetap memperhatikan manner alias akhlak. Meskipun entah bagaimana mengukurnya, karena bisa jadi gurunya pun tak melihat.

Berikutnya, kalau di offline, kita sangat bisa berkomunikasi lebih lanjut, jauh dan personal dengan guru kita. Termasuk menanyakan berbagai hal yang kita belum paham atau bahkan kita salah pahami.

Kita juga bisa menyaksikan dan memperhatikan langsung, dari waktu ke waktu korelasi petuahnya dan akhlaknya. Jika kita berpegang pada guru adalah sosok yang 'alim secara keilmuan dan saleh secara amaliah, maka parameter demikian bisa kita pandang langsung dalam perjumpaan-perjumpaan ketika kita berguru via darat. 

Kalau online, apalah yang bisa dicitrakan?

Begitulah. Sungguh mujur kita yang berhasil membangun kesempatan untuk bergabung dengan pengajian-pengajian offline. Lalu merasa menemukan guru yang cocok dengan apa yang kita dambakan selama ini dalam hal keimanan dan keislaman.

Guru sekaligus mentor secara langsung adalah karunia Allah yang ideal dan layak diperjuangkan oleh setiap kita.

Belajar Islam bukannya tidak boleh secara online, namun itu tentu sangat tidak cukup. 

Apalagi kalau kita mengikutinya setengah-setengah, sepotong-potong.

Ketemu ayat yang memuat kata "jihad" segera diartikan "berperang", bawaannya pengin mati syahid mulu. Pengin membabati orang-orang yang tidak sepaham dengan dirinya, lalu berharap masuk surga. Sebenarnya gurumu itu siapa? Siapa yang dicontoh? Rasulullah tidak demikian lho.

Jadi teman curhat, jangan berpuas diri hanya berguru secara online apalagi pada guru yang nyata-nyata menumbuhkan kebencian dalam hati kita. Ngaji bukannya makin tawaduk dan merunduk malah makin pongah dan bertingkah salah.

Saat ini kita betul-betul membutuhkan guru-guru, Kiai-Kiai, Ustadz, Ulama yang mumpuni ilmunya, saleh amaliahnya, dan bijak pandangan-pandangannya. Agar kita memiliki tangga menuju makna-makna mendalam dalam beriman dan berIslam. Kita sangat membutuhkan khazanah rujukan kitab-kitab klasik yang berlimpah banyaknya. Kita butuh sandaran perspektif, bukan sekadar modal kedangkalan perspektif kita. 

Related Posts
Han
Lebih suka dipanggil Han ketimbang Lohan. Menikmati sebagai penuntut ilmu sejati. Blogger cupu yang punya mimpi seperti bos kapanlagi

Related Posts

1 comment

  1. Hmm, sebenernya offline sama online itu yang beda hanya tatap mukanya saja sih, adabnya harusnya tida berbeda.

    ReplyDelete