A97Cn1YSfpSggZALdsWhvytH7KM7jSKgq3yFnxAO

Viral Nissa Sabyan. Tunggu Dulu, Ini Tips Menghadapi Fitnah Jahat

Saat jagat dunia maya dihebohkan dengan pemberitaan viral Nissa Sabyan, saya termasuk orang yang awalnya juga kepo. Ikut-ikutan mencari tahu dan menyelidiki. Apa yang sebenarnya terjadi. Namun pada akhirnya saya sadar akan satu hal. Apa itu? Yuk kepoin aja curhatan saya.

viral nissa sabyan

Saya memang bukan fans fanatik Sabyan Gambus. Namun lagu-lagu yang mengiringi Ramadan beberapa tahun silam ini sukses menghibur kita juga kan. Bahkan banyak juga yang mengaguminya dari kalangan Non Muslim. 

Beberapa tahun redup lalu muncullah pemberitaan negatif soal vokalis Nissa Sabyan ini. Bagaimana ya perasaannya? Remuk? Hancur? Ingin bunuh diri? 

Kebetulan sekali, seiring dengan pemberitaan negatif tersebut (terlepas entah benar atau tidak) saya pun juga mengalami hal yang sama seperti Nissa. Beberapa hari lalu saya difitnah oleh seseorang bahwa saya memplagiasi karyanya.

Nissa Sabyan dan Saya

Tentu saja saya bukan siapa-siapa. Sadar diri banget lah. Artis bukan, tokoh juga bukan, selebgram bukan, hanya penulis blog pinggiran yang berharap hidupnya bahagia dunia akhirat. Itu saja kok.

Namun membaca, mendengar, dan melihat pemberitaan soal Nissa ini saya jadi ikut kasihan. Mulai dari obrolan whatsapp, timeline Facebook, instagram, twitter tak pernah sepi soal pemberitaan ini.

Bagaimana dengan saya? Siang itu saya diuji dengan fitnah yang tak pernah saya sangka sebelumnya. Ya iyalah ya fitnah mana yang bisa disangka-sangka, hehe.. 

Jadi saat itu saya sedang mengikuti lomba SEO Tanya Veronika Asisten Virtual, dan sempat menempati posisi page 1 kurang lebih selama 7 hari. Hari ke hari posisi semakin turun, semakin turun bahkan hampir hilang dari urutan 100 besar. Namun saya tak putus asa, optimasi terus dilakukan.

Hingga akhirnya stabil di posisi 30 atau 40-an. Namun siang itu saya mendapat kabar bahwa blog saya dilaporkan ke DMCA. Apa itu DMCA?

DMCA adalah singkatan dari Digital Millennium Copyright Act, sebuah aturan yang mengatur tentang hak cipta atas konten digital. DMCA disahkan di Amerika Serikat pada tahun 1998. Seperti yang telah kita ketahui konten digital merupakan hasil karya seseorang baik berupa teks, gambar, foto, video, dan lainnya yang dikemas dalam format digital. Termasuk blog.

Jadi orang ini melaporkan saya atas tuduhan plagiasi. Banyak orang yang akhirnya tahu kasus ini. Berawal dari sebuah whatsapp group khusus blogger, berita ini akhirnya menyebar entah sampai mana. Entah bagian mana yang menyebar, apakah bagian ketika saya belum klarifikasi atau bagian yang sudah saya klarifikasi kebenarannya.

Beruntung dikelilingi orang-orang baik yang terlebih dahulu mengkonfirmasikan kebenaran beritanya pada saya terlebih dahulu sebelum menyebarkannya kemudian ke group-group lain. Sungguh luar biasa memang kekuatan sosmed ini.

Intinya sih saya merasakan juga bagaimana pedihnya dijelek-jelekkan orang, dituduh melakukan perbuatan yang tidak pernah saya lakukan. Hingga akhirnya datanglah kebenaran. Klarifikasi dari akun yang melaporkan. Bahwa dirinya pun juga tidak tahu menahu soal laporan itu. Hanya namanya saja dipinjam untuk melaporkan saya.

Karena tidak terbukti benar, sampai saat ini artikel saya pun masih ada, dan memang tidak seharusnya hilang dari peredaran. Karena saya memang membuat konten itu murni dari tulisan sendiri, beberapa referensi pun sudah saya cantumkan dalam artikel tersebut. Jadi saya yakin, Allah akan menolong saya dan mengungkap kebenarannya cepat atau lambat. 

Kisah Dibalik Tuduhan

Saat dituduh saya merasa sedih, tentu saja. Saya pikir hal ini manusiawi dan setiap orang pasti akan merasa sedih dengan pemberitaan negatif yang menimpa kita. Namun orang tercinta mengingatkan saya untuk bersabar.

Bersabar ini memang punya dua arti ya. Sabar atas tuduhan menyakitkan dan bersabar untuk terus memperjuangkan kebenaran. Saya memilih keduanya. Hingga kebenaran terungkap, saya akan terus bersabar untuk memperjuangkannya.

Karena tak kunjung menemui titik temu, saya sempat down dan ingin berhenti ngeblog saja. Cemen sih memang, tapi sungguh itu hal menyakitkan bagi saya lho. 

Namun sore itu, saya mencoba untuk tidak menghiraukan berbagai macam desas-desus yang beredar. Saya mencoba untuk pasrah dan menyerahkan segala urusan pada Tuhan saya. Saya pun sempat mengikuti sebuah kajian rutin di hari Sabtu sore.

Seolah Allah sedang menasihati saya lewat ustadz yang menjelaskan materi tentang Tafsir Surat Al-Muzammil sore itu. Tentang bagaimana sikap kita seharusnya ketika menghadapi sebuah persoalan yang membuat hati kita sedih dan sakit.

Tips Menghadapi Fitnah

Lalu muncullah tulisan ini sebagai pengingat diri sendiri, bagaimana tips menghadapi badai fitnah yang menyakitkan itu. Mudah-mudahan siapapun yang mendapat terpaan ujian seperti saya bisa segera selesai persoalannya ya, aamiin.

tips menghadapi fitnah

1. Sabar

Kalau sudah berusaha untuk mengklarifikasi berita bohong, maka tugas kita selanjutnya adalah bersabar. Kita harus tahu bahwa kehidupan manusia memang tidak akan pernah lepas dari permasalahan. 

Bahkan kata guru saya, kalau memang ingin hidup tanpa masalah, kembali saja ke rahim ibu. Jangan pernah lahir ke dunia ini. Karena memang inilah kehidupan. Satu-satunya cara, yuk dijalani aja. 

Apalagi yang namanya hidup berdampingan dengan manusia yang lain, tentu saja ada yang tidak menyukai kita. Namun, bukankah kita hidup bukan untuk menyenangkan orang lain? Jadi santai saja. Sabar saja dengan apa yang orang katakan tentang kita. 

2. Memperbanyak Ibadah

Sore itu saat mengaji, nasihat guru saya begitu mengena dalam hati. Betapa ujian fitnah yang harus saya lalui ini adalah sesuatu yang mungkin Allah datangkan karena saya kurang kencang ibadahnya. 

Maka diantara hiburan kita ketika dilanda fitnah adalah dengan salat di sepertiga malam dan mentadabburi AlQuran. Karena yang membuat manusia tegar dan kokoh adalah Qiyamul lail dan Tadabbur AlQuran itu sendiri.

Fokus beribadah, fokus melakukan hal-hal yang bermanfaat. Serahkan segala urusan pada Allah. Biar Allah yang bereskan semuanya.

3. Jangan Ditanggapi

Saat itu saya memang langsung teringat pada sebuah cerita tentang Fitnah dan Bulu Kemoceng. Fitnah ibarat kemoceng yang dicabuti bulunya lalu disebarkan begitu saja kemanapun arah angin membawanya. Siapapun yang dilewati oleh bulu itu, akan mengetahui berita yang dibawanya.

Begitulah fitnah. Menyebar bak bulu kemoceng yang akan sampai pada ratusan bahkan ribuan orang. Bagaimana kita mengembalikannya? Bagaimana kita akan mengembalikan bulu-bulu itu ke tempat yang semestinya? Sementara angin sudah membawanya entah kemana saja.

Maka apa kata Allah? 

Wasbir ala ma yaquluna wahjur hum hajran jamiila

 Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.

Jangan ditanggapi. Abaikan, lupakan. 

Karena di dunia ini memang ada hal-hal yang perlu ditanggapi dan ada hal-hal yang tidak perlu ditanggapi. Karena kalau ditanggapi, kitalah yang akan capek baik jasmani maupun rohani.

Pada akhirnya kita harus yakin bahwa Allah tidak tidur. Dosa-dosa mereka pun sedang ditangguhkan. Allah akan bereskan mereka. Mari kita tetap fokus beribadah.

Begitulah akhirnya yang membuat saya tenang dan kembali termotivasi untuk terus berkarya, untuk terus menulis. Hingga kabar gembira saat itu pun datang. Bahwa artikel saya tidak terbukti melakukan plagiasi. 

Mudah-mudahan yang mendengar kabar soal fitnah itu pun juga mendengar apa yang sebenarnya terjadi. 

Begitu juga dengan Nissa Sabyan yang mendadak viral akhir-akhir ini. Apa sih urgensi kita mencampuri urusan orang lain? Bukannya saya fans Nissa sih. Hanya saja muak gitu dimana-mana bahas dia. Sampai saya pun akhirnya memberanikan diri juga untuk menulis tentangnya.

Bukannya kita harus ingat bahwa urusan dengan manusia itu paling susah taubatnya?

Kalaulah hal yang kita gosipkan itu benar, apakah kita terbebas dari perbuatan buruk? Bukankah kita juga sedang ikut menyebarkan berita itu dengan jempol kita? 

Merusak kehormatan orang lain, merendahkan, lalu membiarkan kabar itu terbang melalui jempol kita. Bukankah itu sama saja dengan menyebarkan bulu kemoceng? Andai orang yang kita bicarakan keburukannya itu memaafkan kita, namun apakah kehormatannya yang sudah kita rendahkan itu bisa kembali seperti semula?

Apakah kita akan memberi klarifikasi ke semua orang yang sudah membaca berita yang kita sebarkan? Baik-baik lah ya berurusan dengan orang lain. Karena yang paling sulit adalah memperbaiki hubungan dengan manusia. Kalau dengan Allah mungkin kita bisa taubat, kita bisa bereskan dengan taubat nasuha.

Tapi bagaimana dengan manusia yang sudah kita sebarkan aibnya? 

Jangan sampai kita menemui Allah dalam keadaan muflis alias merugi. Kebaikan-kebaikan kita akan diambil oleh orang yang kita jelek-jelekkan, kita hina, kita rusak kehormatannya. 

Yuk tahan lisan kita. Jika ada yang tidak baik, sampaikan saja pada orangnya. Tidak usahlah ikut membicarakan sesuatu yang tidak ada urusannya dengan kita. Tidak usah ikut-ikut menyebarkan kehormatan seseorang yang sedang dirusak. Fokus pada sesuatu yang bermanfaat, fokus pada apa yang kita sebut dengan "sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."

Tinggalkan berita Nissa Sabyan, biarkan perbuatannya menjadi urusannya dengan Tuhannya. Bukankah banyak pekerjaan lain yang menanti kita? Hehe...



Han
Lebih suka dipanggil Han ketimbang Lohan. Menikmati sebagai penuntut ilmu sejati. Blogger cupu yang punya mimpi seperti bos kapanlagi

Related Posts

1 comment