Mei tahun 2018 yang lalu, teman-teman mungkin masih ingat bagaimana mencekamnya situasi di Indonesia karena berita kerusuhan di Markas Komando Brigade Mobil (Mako Brimob), Depok. Akibat dari kerusuhan tersebut, 5 anggota polisi dinyatakan gugur dan 1 napi teroris dinyatakan tewas.

Nah, peristiwa kerusuhan disertai penyanderaan hingga menelan korban jiwa tersebutlah yang menjadi latar dari film Sayap-Sayap Patah. Sebuah film yang boleh dibilang sebagai kampanye anti-terorisme yang dibintangi oleh Nicholas Saputra dan Ariel Tatum.

sayap-sayap patah

Sinopsis Film Sayap-Sayap Patah

Aji (Nicholas Saputra) adalah anggota Densus 88 yang bertugas memberantas pelaku terorisme di Surabaya. Bersama dengan rekan-rekannya, Aji melakukan perburuan terhadap Leong (Iwa K), teroris yang juga sudah merekrut banyak orang untuk menjadi teroris.

Dalam menjalani tugasnya, kesibukan Aji tentu berinsentitas tinggi. Itulah mengapa ia jadi jarang punya waktu untuk menemani Nani (Ariel Tatum)—istrinya—yang tengah hamil tua.

Nani sendiri kerap dilanda kegelisahan dan rasa cemas yang mengancam kesehatan ia dan bayinya. Hingga pada satu hari, akhirnya ia memilih kembali ke Jakarta untuk tinggal bersama ibunya (Dewi Irawan).

Selang beberapa waktu kemudian, setelah berhasil meringkus Leong dan komplotannya, barulah Aji menyusul Nani ke Jakarta. Aji pun dipindahtugaskan ke Mako Brimob. Naas, pada hari pertama bertugas di Mako Brimob, kerusuhan terjadi. Aji yang sebelumnya sempat menemani Nani menunggu proses melahirkan di rumah sakit, menjadi salah satu anggota kepolisian yang disandera oleh napi teroris di Mako Brimob.

Review Sayap-Sayap Patah

Meski bukan penggemar Nicholas Saputra, tetapi saya pun percaya bahwa bahwa salah satu hal yang mendukung larisnya film ini adalah adanya beliau sebagai pemeran utama.

review film sayap-sayap patah


Dengan latar peristiwa yang diangkat, tadinya saya mengira film ini akan menyajikan cerita penelusuran mendalam terkait jaringan teroris dan bagaimana aparat kepolisian (khususnya Densus 88) memberantas terorisme. Nyatanya tidak sedetail itu. Peristiwa kerusuhan yang sebenarnya terjadi selama 36 jam pun, dalam film ini hadir tidak sampai semalam.

Dengan kata lain, peristiwa mencekam sekaligus emosionalnya, tidak segreget yang saya bayangkan. Alur ceritanya memang terasa lebih ingin tampil sebagai film yang mengampanyekan anti-terorisme sekaligus mempresentasikan aksi kepahlawanan aparat kepolisan. 

Ya nggak ada yang salah dengan itu juga, sih. Namun, untuk film dengan latar peristiwa yang mencekam dan emosiional, film ini terasa biasa saja atau terasa seperti “yang penting ada moment kerusuhannya”.

Dibanding aksi penelusuran yang mendalam, yang paling terasa dalam film ini memang sisi dramanya. Film ini menggugah hati penonton melalui sudut pandang korban dan keluarga korban yang ditinggalkan.

Di awal, film ini tampak menjanjikan dengan penggambaran aksi terorisme yang mengakibatkan sejumlah mayat bergelimpangan dan diiringi tangisan anak kecil yang kehilangan ibunya di TKP. Namun, seiring berjalannya cerita, tidak ada sajian mendalam tentang peristiwa tersebut maupun peristiwa kerusuhan di Mako Brimob.

Melihat adegan yang menjadi aksi terorisme, tentu saya ikut mengutuk perbuatan keji berkedok “perjuangan menuju surga” tersebut, tetapi sebagai penonton film, ada hal yang terasa tidak tuntas terjawab. Tidak ada alasan detail mengapa Leong dan komplotannya melancarkan dua peristiwa mengerikan yang menelan banyak korban.

Di luar dari isi cerita yang memang agak kureng menurut saya, yang menarik perhatian dalam film ini justru peran Iwa K sebagai gembong teroris yang bengis dan intimidatif, serta Nugie sebagai Komandan Mako Brimob yang “tahu tempat” saat menjalankan tugas. Ia begitu piawai memerankan polisi yang tahu kapan ia harus menginterogasi dengan tenang dan kapan ia menjadi tegas dan penuh tekanan.

Dibanding NicSap yang memang tampil sebagaimana NicSap biasanya, kedua penyanyi tersebut justru menjadi sosok yang berkesan dalam film ini.

Selain itu, moment penyampaian berita duka yang tanpa kata-kata menjadi satu adegan yang paling berkesan. Entah karena posisi saya sebagai seorang istri atau memang dasarnya saya begitu mudah tersentuh dengan adegan kehilangan orang tersayang, tangis Nani yang pecah saat tahu suaminya menjadi korban, membuat air mata saya ikut menetes. Dan mungkin memang itulah yang menjadi garis besar dari film ini. Tentang pertanyaan berupa, “adakah yang siap dengan kehilangan?”

Film ini bukan ingin menghadirkan secara detail aksi heroik pasukan Densus 88 dalam meringkus terorisme, tetapi film ini sebagaimana yang sudah saya sampaikan di atas adalah gambaran tentang betapa kejamnya aksi terorisme.

Jika kalian berharap ada aksi menegangkan dengan gambar-gambar mencekam saat Leong dan komplotannya diringkus, ada baiknya untuk menurunkan ekspektasi. Gambaran seperti itu ada, tetapi tidak benar-benar hadir sebagai sesuatu yang mencekam dan menegangkan.

Baca juga review film Indonesia lainnya di sini yuk!


Author : UtamyyNingsih

Post a Comment

Previous Post Next Post