Walking Dead Tomate - Bagi yang suka menonton film, dikecewakan oleh ekspektasi sendiri adalah satu hal yang biasa terjadi. Saya pribadi lupa berapa kali merasa kecewa setelah menonton film. Namun, yang paling terbaru adalah kecewa setelah menonton Walking Dead Tomate.

Film ini sebenarnya sudah cukup lama digarap, tetapi baru bisa tayang secara nasional pada 14 April tahun ini. Satu hal yang membuat saya sangat penasaran ingin menonton adalah karena film ini mengangkat tentang budaya Toraja, tanah kelahiran ibu saya.

Sinopsis Walking Dead Tomate

walking dead tomate
pict from detik

Walking Dead Tomate yang oleh banyak orang disangka film luar negeri, nyatanya adalah film lokal (yang katanya) bergenre horor. Kata tomate yang disematkan dalam judul berasal dari bahasa Toraja yang berarti orang mati atau mayat.

Ceritanya, pada suatu hari, Yuna (Yulinar Arief) mendapat tugas dari Clara (Fifit Yani) —atasannya di kantor— untuk meliput budaya Toraja. Dalam mengemban tugas tersebut, Yuna kemudian mengajak dua teman cowoknya, Andi (Aga Dewantara) dan Dewa (Iqbal Perdana). Sementara itu, demi kelancaran keperluan liputan, Clara sudah menyiapkan seorang tour guide bernama Kanaya (Donna Maliwa), cewek Toraja yang juga adalah keponakannya.

Saat tiba di Toraja, Yuna bersama timnya berkesempatan meliput upacara kematian khas Toraja yaitu rambu solo', serta tradisi ma'nene' sebagai ritual membersihkan dan mengganti baju mayat.

Awalnya, semua berjalan lancar. Setidaknya, lancar versi cerita dalam film. Ketegangan baru mulai muncul ketika mereka menyaksikan tradisi ma'nene' lalu Dewa menemukan sebuah kalung antik yang ternyata adalah milik mendiang Limbong Bulaan (Deby Astuti), seorang penari yang juga adalah leluhur Clara dan Kanaya.

Dewa yang pada saat itu sedang dalam keadaan terlilit utang, memilih mengambil kalung itu—untuk kemudian dijual dan bayar utang—dibanding mengembalikannya. Akibatnya, Dewa jadi sering mengalami kejadian-kejadian aneh dan menyeramkan.

Sebenarnya, jika dilihat berdasarkan unsur budaya yang coba diangkat, film ini patut untuk diapresiasi. Meski tidak begitu detail, setidaknya film ini sudah bisa memberi gambaran perihal bagaimana rambu solo' itu berjalan dan seperti apa arti kematian bagi orang Toraja. Tradisi ma'nene'-nya memang hanya sedikit dikulik, tetapi tampil secara nyata. Maksud saya, penampakan mayat yang akan dibersihkan benar-benar apa adanya, sebagaimana yang biasanya ada saat tradisi ma'nene'.

Perihal Budaya Toraja

Lebih jauh, film ini juga sedikit mengangkat perihal ritual mayat berjalan. Dahulu kala, sulitnya akses infrastruktur, menjadi alasan sebagian orang Toraja membuat mayat "berjalan sendiri" menuju rumah atau tempat peristirahatan terakhirnya. Dengan catatan, si mayat tidak boleh disentuh atau ditegur agar mantra yang menuntun si mayat tetap bekerja.

Film ini pun semakin oke karena menyinggung perihal maraknya kejadian pencurian/hilangnya barang berharga milik mayat/jenazah di pekuburan. Pesan untuk menghargai dan menaati aturan di kampung orang juga tersampaikan ke penonton.

kisah nyata walking dead tomate
pict from pikiran-rakyat

Sayangnya, unsur budaya dan singgungan perihal tindak pelanggaran adat dan hukum yang sudah sangat menarik untuk diangkat itu, jadi rusak karena tiga hal: pertama adegan-adegan cringe yang bikin film ini jatuhnya malah bikin bingung apakah film ini bergenre komedi atau horor, kedua akting pemain yang kaku, dan ketiga drama percintaan yang sangat dipaksakan.

Salah satu adegan yang paling lucu padahal suasana yang ditampilkan sedang tegang-tegangnya adalah ketika Yuna, Dewa, dan Andi, sudah sampai di penginapan dan tiba-tiba listrik padam.

Pada saat itu ceritanya mereka butuh lilin untuk penerangan. Melihat adegan itu, jujur saja saya langsung bingung. Mereka, kan, punya hape, ya, kok tidak dimanfaatkan?

Pas tahu kalau Dewa ketemu hantu saat keliling penginapan untuk cari lilin, pertanyaan saya terpecahkan. Oh berarti ceritanya mau di-plot supaya Dewa ketemu hantu.

Lucunya, waktu Dewa lagi berkeliling, dia sempat ketemu dengan si pemilik penginapan. Oleh si pemilik penginapan, Dewa dikasih senter. Saya jadi bingung lagi, lha kok malah senter? kan butuhnya lilin. Ngapain nyari lilin kalau ternyata yang disediakan adalah senter?

Apalagi pas Dewa sudah ketemu sama Yuna dan Andi, Andi yang mau buka kamar malah pakai flash light dari hape biar dapat bantuan cahaya. Sumpah, saya nggak ngerti kejadian itu maksudnya bagaimana.

Ya, kan, kalau ujung-ujungnya pakai hape, ngapain si Dewa harus keliling cari lilin? Sulit diterima akal aja gitu. Awalnya dibikin seolah-olah lilin itu penting, akhirnya malah dikasih solusi pakai hape juga bisa.

Kalaupun niatnya mau dibikin Dewa ketemu hantu, yaelah di kamar kan juga bisa. Kalaupun Dewa di-plot harus berkeliling, kenapa nggak didukung dengan kebetulan bahwa hape meraka lowbet dan tidak ada senter sehingga satu-satunya solusi penerangan adalah dari lilin? Adegan ini nih yang membuat saya merasa sisi horor dari film ini malah nggak dapet. Jatuhnya malah lucu!

Selanjutnya yang juga membuat film ini mengecewakan adalah akting sebagian besar pemainnya yang masih kaku. Dialognya apalagi. Kadang, dialognya juga bikin film ini terasa lucu padahal ceritanya lagi tegang. Kayak misalnya pertanyaan, "kamu bisa jalan, kan?" dari Clara kepada Dewa yang sudah lemah tak berdaya. Orang sudah jelas-jelas dibilang nggak bisa jalan, malah ditanya begitu. Kan kocak, ya?

Yang paling parah adalah kisah romansa alias drama percintaannya yang sangat amat dipaksakan. Ampun deh, nggak banget itu urusan cinta-cintaannya.

Padahal kisah percintaan ini nggak penting juga untuk dihadirkan. Ya, maksud saya tanpa dibuat plot ada kisah cinta segitiga yang maksa itu, alur cerita akan tetap baik-baik saja. Dialog dan ekspresinya Yuna yang takut kehilangan orang yang ia cintai, bukannya bikin tersentuh, yang ada malah bikin geli.

Sebenarnya masih ada sih hal-hal lain yang bikin saya "terhibur" saat menonton film ini. Namun, jika saya tuliskan semua, nanti malah jadi terlalu spoiler, hahaha.

Intinya gitu aja, tema budaya yang diangkat sudah oke, meski sebenarnya masih sebatas kulit luarnya saja. Pesan untuk menghargai aturan yang ada di Toraja pun sudah tersampaikan dengan mulus. Selain dari itu, ya gitu deh.

Saya bangga budaya Toraja diangkat menjadi latar film, tetapi saya kecewa setelah selesai menonton film ini. Kalau kalian mau merasakan sendiri bagaimana rasanya, silakan nonton di bioskop daerah kalian. Itu pun kalau film ini masih ada, wqwqwq.

Semoga artikel ini bermanfaat ya!

Author : Utamyyningsih

Post a Comment

Previous Post Next Post