Drama Korea D.P yang ditayangkan di Netflix membuat saya berpikir;

Bullying ternyata ada dimana-mana. Bahkan ketika kita sudah lulus dari sekolah atau perguruan tinggi. Dimana seharusnya orang-orang dewasa bisa berpikir sebagaimana otak mereka yang juga lebih besar daripada anak-anak SD. Berpikir jangka panjang, memberikan empati, dan juga tahu apa yang dia lakukan. Ternyata orang dewasa sekarang banyak juga yang tak memiliki itu semua.

Belum lama Drama Korea D.P (Desertir Pursuit) tayang, di Indonesia juga terjadi kasus pelecehan seksual di sebuah lembaga independen yang punya pengaruh di bidang industri hiburan Indonesia. Bahkan sampai saat ini entah bagaimana nasib korban bullying itu sendiri, pelakunya masih juga belum ditangkap oleh kepolisian.

Hal yang sama terjadi juga di drama Korea D.P ini.

drama korea D.P

Review Drama Korea D.P

D.P. adalah seri televisi Korea Selatan yang dibintangi oleh Jung Hae-in, Koo Kyo-hwan, Kim Sung-kyun, dan Son Seok-koo. Diadaptasi dari webtoon D.P: Dog Days karya Kim Bo-tong, seri ini ditulis bersama oleh Kim Bo-tong dan Han Jun-hee. Han Jun-hee juga menjadi sutradara seri tersebut.

D.P yang merupakan akronim dari Desertir Pursuit mulai ditayangkan pada 27 Agustus 2021 lalu di Netflix. Singkat saja, D.P hanya menayangkan enam episode pendek.

Meskipun begitu, kita harus punya nafas yang cukup panjang untuk mengikuti episode demi episode dari Drakor D.P ini. Mengapa? Karena hampir di setiap episode kita akan menjumpai bentuk bullying yang dilakukan oleh para tentara Korea karena masih menjunjung tinggi konsep senioritas.

pemeran drama D.P
pict from cnnindonesia

Hampir setiap episode dihiasi dengan kekerasan, baik secara verbal maupun fisik. Oleh karena itulah drama ini diberi label hanya untuk usia 17 tahun ke atas. Perlu kebijaksanaan penonton untuk melanjutkan menonton drama ini atau tidak.

Namun dibalik setiap kekerasan itu, ada banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil.

Dikisahkan seorang Ahn Jun Ho yang diperankan oleh Jung Hae-in sedang melaksanakan wajib militer di Korea Selatan sesuai dengan keputusan Undang-Undang dan hukum yang berlaku di negara tersebut.

Ahn Jun Ho tumbuh sebagai pria kuat yang menghidupi ibu dan adiknya. Meskipun ketidakadilan terus menghampiri dirinya. Mulai dari ayahnya yang seorang pecandu alkohol, judi dan juga pelaku kekerasan rumah tangga pada ibunya, Ahn Jun Ho juga dipecat dari pekerjaannya tanpa bayaran karena dituduh mengambil uang kembalian pelanggannya.

Ahn Jun Ho pun harus menerima perlakuan tidak adil dan bullying dari seniornya di wamil. Ahn Jun Ho memang diam saja, menahan segalanya sebagaimana teman-temannya yang lain. Namun ketika orangtuanya disinggung, ia pun tak segan untuk membuat seniornya berhenti menghinanya.

Siapa sangka keberanian Ahn Jun Ho itu membawanya pada petinggi markas dan memberinya kesempatan untuk menjadi seorang D.P (Desertir Pursuit). Tugasnya mencari para tentara yang kabur dari markas wamil. Sehingga ia pun tak harus menghadapi senioritas yang menjijikkan di markas wamilnya setiap waktu.

Tak hanya jeli dan gigih, Jun ho juga dikenal tak mudah emosi, patuh terhadap aturan, dan pendiam. Setelah ditugaskan di unit D.P, Jun ho pun harus menghadapi konflik batin dalam dirinya sendiri. Karena ia pun sangat tak menyetujui tindakan bullying bahkan kekerasan dalam wamil yang mereka jalani.

Alih-alih menangkap para pelaku bullying, kekerasan, hingga pelecehan seksual, peraturan malah menghukum mereka yang kabur atau mangkir dari tugasnya di wajib militer. Padahal tekanan yang mereka alami dari senior lah yang membuat semua ini terjadi.

Dalam menjalankan tugasnya menghadapi berbagai kasus desertir militer, ia ditemani dengan senior bernama Han Ho-yeol (Koo Kyo-hwan), kopral unit penahanan desersi yang berjiwa bebas dan terlihat tidak memiliki ambisi.

review drama korea D.P

Bagaimana petualangan Ahn Jun Ho menangkap para desertir itu? Apakah Ahn Jun Ho sukses menjadi seorang D.P di kantornya? Bagaimana pula bullying yang terjadi di dalam wilayah wamil? Teman curhat bisa menontonnya lengkap melalui channel Netflix.

Tenang, hanya 6 episode pendek kok.

Pengalaman Bullying Karena Konsep Senioritas

Melihat drama D.P seperti melihat masa lalu saat saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Bukan saya yang mengalami bullying tapi seorang sahabat yang saat itu sama-sama duduk di kelas pertama bersama saya.

Seorang laki-laki yang memang lebih suka bermain bersama kami, para perempuan. Namun sahabat saya ini tidak pernah mengganggu siapapun kok. Dia juga baik hati dan ringan tangan. Bahkan untuk ukuran piket kelas saja dia sukarela membantu kami untuk membersihkan kelas bersama-sama sepulang sekolah meskipun bukan jadwalnya piket.

Oleh karena itulah kami dekat dan saling mendukung satu sama lain. Bahkan kami juga ikut ekstrakulikuler yang sama.

Namun pada suatu hari, teman saya ini diolok-olok oleh kakak-kakak kelas akhir di kantin. Dia menyebut teman saya bencong. Memanggil-manggil teman saya dengan nada mengejek dan juga meremehkan. Padahal itu di depan orang banyak.

Sekali dua kali saya dan teman saya diam dan memilih untuk pergi dari sana. Mencoba mengalah karena mereka senior. Ditambah kami sering bertemu juga di salah satu ekstrakulikuler yang sama. Jadi untuk menghindari konflik, kami mengalah sambil menahan malu dan marah.

Namun kali ketiga, para senior itu melewati kelas kami yang sedang dibersihkan, dipel dengan sabun hingga semerbak wangi menguar sampai keluar kelas. Kami memang suka membersihkan kelas usai pulang sekolah. Karena kebiasaan di sekolah saat itu selalu ada hadiah untuk kelas yang memenangkan lomba kebersihan.

Namun si kakak kelas sore itu menginjak-injak lantai yang sedang kami bersihkan. Teman saya marah dan memperingatkan kakak kelas baik-baik. Namun ternyata si pembuat onar malah jauh lebih galak dibanding kami yang menjadi korban.

Si kakak kelas kembali mengejek dan merendahkan teman saya, menyebutnya bencong dan sebutan-sebutan lain yang menurut saya menyakitkan. Sebelum saya membelanya, ternyata teman saya sudah menampar si kakak kelas dengan kerasnya. Saya pun kaget, sekaligus bangga sih.

D.P dan bullying

Saya sepakat bahwa ketika kita dibully, tidak seharusnya kita menerimanya, menyembunyikannya atau bahkan menganggapnya sebagai suatu hal yang harus dilupakan. Saya mendukung bullying itu harus dilawan. Lawan sekuat tenaga, kalau perlu tampar saja pipinya seperti yang telah dilakukan oleh teman saya itu.

Sejak saat itu saya sangat anti dengan iklim belajar yang mengedepankan senioritas. Seperti paskibraka misalnya. Dimana-mana harus mengangkat tangan untuk hormat, bahkan di luar sekolah sekalipun. Saya sih nehi. Apalagi masih sekolah.

Diingatkan Kembali dengan Peristiwa STPDN

Apa yang terjadi dalam Drama Korea D.P malah lebih parah lagi. Bukan hanya bullying secara verbal, tapi juga kekerasan fisik dan bahkan pelecehan seksual. 

kekerasan STPDN dan DP
kekerasan di STPDN yang memakan banyak korban

Melihat drama Korea D.P saya juga teringat dengan peristiwa nahas kematian salah seorang mahasiswa STPDN sebab dianiaya menurut hasil autopsi. Dianiaya oleh seniornya. Lalu menguak di media massa nasional bahwa STPDN memang memberlakukan senioritas dan kekerasan selama ini. Hal yang secara turun temurun terpaksa dimaklumi.

Mengingatnya kembali saya jadi ikut sesak napas membayangkannya. Bagaimana jika hal itu terjadi pada kakak lelaki saya? Pada adik lelaki saya? Pada sepupu saya? Tentu saya akan sangat marah, geram, sedih, namun tak bisa melakukan apapun kecuali menyuarakan kesengsaraan korban bullying itu.

Sejak saat itu kampus-kampus mulai mengkaji kembali pelaksanaan Orientasi Mahasiswa yang dilakukan di kampus-kampus. Orientasi yang cenderung menghukum secara fisik lama kelamaan ditiadakan, dan memang harusnya begitu.

Saking takutnya saya sampai tidak mau mengikuti masa orientasi jurusan yang dilaksanakan di luar kampus. Saya benar-benar takut dengan konsep senioritas itu. Tak apa jika saya dikatakan seperti pengecut. Namun saya ingin melindungi diri saat itu. Satu-satunya jalan adalah dengan tidak mengikuti masa orientasi jurusan, meskipun konsekuensinya saya tidak akan pernah menerima sertifikatnya.

Tak mengapa, saya pun tak ingin menjadi aktivis di kampus untuk saat itu. Karena sertifikat masa orientasi jurusan itulah yang menjadi tiket bagi para mahasiswa baru jika ingin bergabung bersama Himpunan Mahasiswa Jurusan.

Kalau berorganisasi harus mengikuti terlebih dahulu masa orientasi yang kejam, maka saya tidak akan pernah mau bergabung dengan organisasi manapun. Beruntungnya saya menemukan organisasi luar kampus yang lebih memperhatikan sisi humanisme di dalamnya. Semua orang setara di sana, tidak ada senioritas meskipun kami juga harus menjaga adab dan sopan santun pada kakak tingkat.

Drama Korea D.P : Open Ending yang Menakjubkan

Bagi teman curhat yang sudah selesai menonton drama Korea D.P, mungkin akan bertanya-tanya, bagaimanakah akhir dari drama ini?

Apakah sang tokoh utama An Jun Ho yang diperankan oleh Jung Hae-In akan menjadi Desertir Pursuit selanjutnya? Akankah ia menjadi sasaran baru bagi D.P-D.P lainnya? Ataukah ia punya strategi lain untuk mengubah busuknya sistem yang ada di dalam militer Korea Selatan?

review drama korea D.P

Saya pun tak tahu. Menurut rumor pun masih belum jelas apakah benar D.P akan berlanjut ke season 2 atau tidak. Sampai saat ini rumor paling kuat yang beredar adalah D.P akan berlanjut ke season 2. Dan semoga saja ini menjadi doa dan bukan hanya sekadar harapan. Hehe.. karena rasanya nonton drama Korea hanya 6 episode ini masih kurang, dan belum ada solusi dari film ini perihal bullying.

Karena toh pelaku bullying masih belum jelas dihukum atau tidak. Justru bullying masih terus berlanjut di markas wajib militer itu sendiri. Akhir episode, teman desertir yang meninggal bunuh diri karena tak berhasil membalas dendamnya pun juga mencoba untuk memberontak. At least dia melakukan sesuatu dan tidak mau diam saja karena dibully oleh para senior di baraknya.

Bullying akan selalu meninggalkan bekas luka yang tak tampak. Sejauh apapun kita berlari dan berusaha untuk melupakan. Mungkin pelaku akan melupakan apa yang pernah dilakukannya di masa lalu, tapi bagaimana dengan masa depan korban? 

Ada yang trauma ketakutan, bahkan ada pula yang tidak lagi berani menghadapi keluarganya. Mungkin ada juga orang-orang seperti teman saya yang langsung bertindak ketika dirinya dilecehkan dan dihina, tapi ada banyak pula orang-orang yang mengalami pelecehan, penghinaan baik verbal maupun fisik, namun ia tak bisa melakukan apa-apa. Bukannya mereka tidak mau, tapi mereka tidak bisa.

Apalagi jika hal tersebut selalu dikaitkan dengan alasan senioritas maupun hubungan atasan dan bawahan dalam pekerjaan. Bawahan yang selalu menerima perlakuan bullying dari atasan atau senior, mencoba untuk tetap bertahan meskipun jiwa dan hatinya hancur tidak lagi ada di tempatnya. Mereka ingin, tapi mereka tak bisa karena butuh makan.

Bagaimana menurut teman-teman? Apakah An Jun Ho menjadi D.P berikutnya? Ataukah ia sedang melakukan misi lain yang ditugaskan untuknya?

Semoga ada season 2 yaa untuk drama Korea D.P ini! Yuhuu.

Kalau menurut teman curhat, berapa nih nilai drama D.P?


 

6 Comments

  1. Gw bukan tipikal penggemar film korea, tapi baca resensi film ini 100% bikin gw pengen nonton film ini..
    Film ini bagus buat edukasi soal dampak bullying..
    Oia, sekedar nambahin sedikit..
    Salah satu tindakan pelecehan seksual yg masuk kategori bullying, menurut gw pribadi bisa aja dilakuin sm org yg kuasanya lebih rendah dr korban / bukan org yg berkuasa..
    Misalnya kasus pelecehan seksual jenis voyeur (mengintip aktifitas pribadi org lain)..
    Di dl case ini, kita hrs aware krn bullying bs disebabkan oleh orang2 dengan kelainan jiwa yang ada di sekitar kita..

    Btw, cool post!

    ReplyDelete
  2. Hal yang paling miris lagi kalau Fenomena bullying ini dianggap sebagai tindakan yang sudah lumrah. Dan nyatanya hampir si setiap elemen masyarakat bullying ini ada loh tanpa kita sadari. Btw saya jadi penasaran dan kepengen nonton drakor D.P nih... hehhee

    ReplyDelete
  3. Aaahh aku juga lagi nonton ini! Sekarang lagi di episode 3 sih karena nonton disaat istirahat kantor hahaha jadi enggak bisa langsung tamat.

    Sampai saat ini sih yang aku rasain bagus sih dramanya apalagi ini relate banget dengan kehidupan nyata ya. Apalagi di Korea Selatan banyak banget di drama atau film yang emang ada adegan bullying dan itu bukan lagi hal luar biasa disana tapi hal biasa. Makanya pas awal-awal baru nonton langsung tertarik untuk lanjutin.

    Aku juga udah baca beberapa spoiler yang lewat di twitter kalo endingnya gantung. Udah kebiasaan Netflix sih jadi udah gak kaget lagi hahaha. Karena belum nonton sampe akhir aku jadi belom ada harapan apa-apa tapi kayaknya gak bisa berharap banyak sama Netflix karena banyak banget yang belum ada kejelasannya padahal diharap ada season selanjutnya kayak Sweet Home dan Extracurricular 😆

    ReplyDelete
  4. Belum nonton dramanya, jadi belum bisa ikutan nilai. But definitely masuk wishlist! Drakor dan isu bullying emang sangat berkaitan ya, tapi selama ini aku lebih banyak nonton yang di sekolah-sekolah. Dan DP ini menarik banget?!

    Turut simpati buat teman kakak yang terkena bullying, dan salut abis sama temen yang berani nampar si senior! Toxic masculinity dan bullying memang sebaiknya harus pergi!

    ReplyDelete
  5. Han ternyata suka drakor nih. Emang bullying tdk cuma terjadi dlm dunia sekolah atau kampus. Dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita bullying masih sering terjadi.

    ReplyDelete
  6. Penikmat Drakor juga ya kak? Hihi bullying terjadi di mana-mana ya hiks untung baik kak ji maupun aku bukanlah korban ya

    ReplyDelete

Post a Comment

Previous Post Next Post