Seperti yang sduah saya tuliskan sebelumnya, salah satu rekomendasi drakor yang tayang bulan ini adalah Narco-Saints (Suriname). Drakor yang dibintangi sederet aktor JKorea kelas A ini resmi tayang pada 9 September yang lalu, tanggal cantik untuk jadian, uhuuiii.

Berhubung drakor ini memang sudah sangat memantik rasa penasaran sejak trailernya dirilis, maka ketika tayang di Netflix, saya segera menikmati jatah me time saya dengan maraton 6 episode sekaligus. 

Namun, sayangnya kecepatan ngedrakor saya tidak berbanding lurus dengan kecepatan nulis saya, makanya baru bisa cuap-cuap tentang drakor ini setelah beberapa hari tayang, hihihi. Sedikit catatan yang penting untuk diperhatikan, drakor ini rating usianya 18+, ya.

drakor narco saints
source: imdb.com

Sebelum membahas lebih jauh tentang drakor ini, satu fakta yang sedang ramai dibahas di media adalah adanya protes dari pihak pemerintah Suriname terhadap Netflix dan tim produksi dari drakor ini. Pasalnya, drakor ini dianggap menodai citra negara Suriname. Nah, lho!

Sinopsis Narco-Saints

Narco-Saints based on true story alias terinspirasi dari kisah nyata tentang orang Korea yang menjadi gembong narkoba di Suriname. Dalam drakor ini, sosok tersebut kemudian dihadirkan sebagai tokoh fiksi bernama Jeon Yo Han (Hwang Jung Min). Dalam menjalankan bisnisnya, Yo Han mengelabui banyak orang dengan tampil sebagai seorang pendeta yang ramah dan karismatik.

Pada awal episode, kita diajak untuk melihat latar belakang keluarga Kang In Gu (Ha Jung Woo). Sejak kecil, In Gu berusaha keras agar keluarganya bisa keluar dari kemiskinan. Setelah menikah dan punya dua orang anak, In Gu menyadari bahwa kebutuhan anak-anaknya sudah sulit untuk ia penuhi dengan penghasilannya menjalankan bisnis karaoke yang bahkan membuatnya nyaris masuk penjara. 

Bersama dengan Park Eung Soo (Hyeon Bong Sik), sahabatnya, ia kemudian mencoba peruntungan di Suriname dengan menjalankan bisnis ikan pari. Awalnya, bisnis mereka berjalan lancar. Pengalaman In Gu dalam dunia bisnis dan lobi-lobi ia terapkan pada bisnis barunya. 

Sementara itu dari Korea, Hye Jin (Choo Ja Hyun) istrinya In Gu tidak henti-hentinya meminta agar suaminya mencari gereja di Suriname agar bisa beribadah. Ketika akhirnya In Gu dan Eung Soo menuruti permintaan Hye Jin, di titik itulah In Gu dan Eung Soo bertemu dengan Yo Han, bos kartel narkoba yang berkedok sebagai pendeta.

Yo Han masuk ke kehidupan—dan bisnis—In Gu dan Eung Soo layaknya malaikat penolong. Ia berperan seolah-olah menjamin keamanan In Gu dan Eung Soo dari satu kelompok gangster yang juga punya kuasa di Suriname. Namun, semua itu ternyata taktik kotor belaka.

Bisnis ikan pari yang bahkan belum benar-benar stabil itu seketika runtuh karena ulah Yo Han yang menyusupkan kokain ke paket ikan pari yang akan dikirim ke Korea. In Gu pun akhirnya dipenjara, di penjaralah ia dikunjungi oleh Choi Chang Ho (Park Hae So) anggota NIS (semacam Badan Intelijen Negara). 

Kelak, dalam menjalankan strategi penangkapan Yo Han, Choi Chang Ho menyamar menjadi gembong narkoba lintas negara bernama Goo Sang Man. Dari pertemuan itulah cerita keterlibatan In Gu dalam sebuah misi rahasia--yang melibatkan beberapa negara—dimulai.

review narco saints
source: selebtempo.com

Review Narco-Saints

Jujurly, saya bisa bisa bilang bahwa drakor ini mantap di hampir semua aspek. Dengan alur cerita yang pelan dan penuh ketegangan, drakor ini berhasil membuat saya sulit untuk beranjak.

Yang bikin penasaran saat menonton drakor ini tentu saja dalah bagaimana akhirnya Yo Han bisa tertangkap. Melihat sepak terjangnya yang menggunakan topeng pemuka agama dalam menjalankan bisnis kotornya, siapa pun yang menonton drakor ini pasti akan dibuat geram bukan main. Namun, di sanalah kehebatannya Yoon Jong Bin selaku sutradara, ia mampu menjaga alur cerita hingga rasa penasaran membuat penonton tetap stay sampai akhir.

Selama durasi 6 jam, saya juga dibuat sibuk menebak siapa sebenarnya sosok lain yang juga menjadi agen National Intelligence Service (NIS) yang ikut membantu jalannya misi rahasia penangkapan Yo Han. Saya sempat mencurigai satu nama yang kelihatannya punya aura-aura seorang intel, tetapi ternyata saya salah. Lebih lanjut, jawaban dari rasa rasa penasaran saya itu pun hadir sebagai salah satu plot twist dalam drakor ini.

Yang juga tidak luput saya kagumi dari drakor ini adalah para pemain. Mereka bukan cuma tampil dengan aksi yang nggak kaleng-kaleng, tetapi juga mulus dalam berdialog, termasuk ketika menggunakan dialog bahasa inggris.

Sulit memang untuk tidak penasaran bagaimana praktik agama yang dijalankan oleh pendeta Yohan, tetapi sayangnya hal tersebut tidak begitu banyak disorot. Meski demikian, sudah terbilang cukup untuk membangun citra buruk seseorang yang “menjual agama” untuk kepentingan dunia bisnis yang justru bertentangan dengan dengan nilai-nilai agama.

Yang juga kurang dari drakor ini adalah kehadiran warga lokal "Suriname". Satu-satunya “orang Suriname” yang banyak disorot adalah si presiden, selebihnya tidak ada. Meski saya tahu pengambilan gambar drakor ini tidak benar-benar dilakukan di Suriname, tetapi rasanya kurang puas aja gitu karena kurangnya (kalau tidak bias dibilang tidak ada) interaksi warga lokal di dalamnya. 

Menurut saya, sih, akan lebih baik jika latarnya adalah sebuah tempat fiktif. Jadi, penonton cukup menikmati apa yang disajikan tanpa harus mencari tahu ciri khas latar tempat yang digunakan. 

Ya, mungkin memang drakor ini hanya ingin fokus pada cerita misi rahasia NIS saat menangkap Yo Han, kali yah. Mungkin juga maksudnya biar nggak suriname-suriname banget.

Terlepas dari kekurangannya, Narco-Saints my drama list yang juga kurekomendasikan untuk kalian tonton, terutama bagi penyuka genre action-crime.

Cuss, sikat, Bestie!

Baca juga drakor apa saja yang tayang di bulan September di sini yuk!

Author : UtamyyNingsih

Post a Comment

Previous Post Next Post