Tradisi membandingkan keluarga ini ternyata tidak hanya saya alami sejak kecil. Ternyata bahkan ketika sudah punya anak sekarang pun, masih ada lho yang punya sikap konservatif seperti itu.

Berikut adalah curhatan teman saya, tentang tradisi membandingkan anak yang bikin keki dan berujung malas ketika harus ada kumpul keluarga besar.

Yuk simak dulu deh!

Tradisi Membandingkan Anak

Lebaran sebentar lagi. Sudah nyiapin apa aja? Kalau saya, lagi sibuk nyiapin mental nih, Bun. Maklum, punya anggota keluarga yang suka baby shaming dan membanding-bandingkan anak itu butuh kekuatan mental yang super kuat untuk menghadapinya. Betul apa betul?

tradisi membandingkan anak

Sejak punya anak, undangan kumpul keluarga yang datang dari salah satu lingkaran keluarga saya, rasanya seperti dipanggil untuk masuk ke dalam sebuah ruangan yang luas, tetapi menyesakkan.

Setiap kali moment kumpul keluarga terjadi, maka setiap kali itu pula saya harus menyaksikan dan mendengarkan anak saya diremehkan, dicari-cari kekurangannya, lalu dianggap payah karena dibanding anak lain seusianya, anak saya belum-bisa-ini-itu. Perilaku seperti itu tentu saja sudah bisa dikategorikan sebagai perilaku bullying.

Sebagai seorang ibu, jelas saya tidak bisa terima ketika anak saya direndahkan dan diremehkan sebegitunya. Sialnya, saat menghadapi situasi tidak mengenakkan seperti itu (baca:mendengar anak dibanding-bandingkan) saya tidak selalu punya keberanian untuk melawan. Perasaan tidak ingin merusak moment kumpul keluarga, selalu jadi alasan saya untuk diam saja. Nanti pulang ke rumah baru nangis, hehehe.

Bullying kepada anak saya yang paling terasa menyakitkan terjadi ketika anak saya berumur tiga tahun. Saking menyakitkannya, kejadian itu kemudian menjadi alasan kenapa saya tidak lagi membawa anak saat lingkaran keluarga saya tersebut mengadakan acara kumpul keluarga, termasuk saat lebaran. Ibaratnya, saya lebih baik menghindari daripada nanti sakit hati lagi.

Ceritanya begini. Pada saat itu, sebelum datang ke acara kumpul keluarga, kami (saya, suami, dan anak) sempat mampir ke toko buku untuk membeli poster hewan. Kebetulan anak saya memang lagi suka ngelihat gambar-gambar hewan.

Ketika sampai di TKP, anak saya lantas sibuk sendiri dengan posternya yang baru. Tidak berselang lama, datanglah seorang sepupunya. Mereka pun asyik main berdua.

Melihat pemandangan itu, saya tentu ikut senang dong. Beda dengan orang tua si anak yang main sama anak saya. Mereka malah melihat kejadian itu sebagai moment tepat untuk membandingkan anak atau lebih tepatnya merendahkan anak saya.

Kalau dibandingkan sama anakmu, tidak ada apa-apanya dibanding anakku. Cobami tes nama-nama hewan, na hapal semuami itu. Anakku itu umurnya lebih muda, tapi soal kepintaran, lebih jago ji anakku!

Dialog di atas adalah dialog dengan logat Makassar. Kurang lebih artinya begini: kalau dibandingkan sama anakmu, tidak ada apa-apanya dibanding anakku. Coba saja tes nama-nama hewan, anakku sudah hapal semua. Anakku itu umurnya lebih muda, tapi soal kepintaran, anakku lebih jago!

Deggh… perasaan saya hancur mendengar ucapan itu. Benar-benar tidak habis pikir. Kenapa sih, harus dengan membandingkan anak untuk menonjolkan kemampuan anak sendiri?

Maksud saya tuh begini, lho, ya kalaupun anaknya jago dalam satu bidang atau bahkan banyak bidang, kenapa harus dengan merendahkan anak lain agar kemampuan si anak bisa di-notice. Manfaatnya apa? Tujuannya apa? Mau membanggakan prestasi anak ya silakan-silakan saja. Ngapain harus membuatnya seperti perlombaan, padahal orang lain sangat tidak berminat untuk jadi peserta?

Kadang, hati kecil saya itu sampai protes sendiri. Kenapa gitu saya nggak membalas dengan ikut membandingkan. Misalnya, membanggakan prestasi anak saya yang sudah lulus toilet training saat sepupu-sepupu seusianya masih pakai popok sekali pakai. Namun, ya itu tadi perasaan nggak enak dan tahu bagaimana sakitnya berada di posisi korban, membuat saya untuk memilih nge-rem omongan.

Lucunya lagi, perilaku membandingkan anak itu benar-benar tidak kenal moment. Saat moment lebaran pun, perilaku itu sudah jadi tradisi bagi sebagian keluarga.

Melihat dan merasakan sendiri bagaimana menyakitkannya ada di pihak korban, saya jadi bertanya-tanya, apa sebenarnya esensi maaf-maafan saat lebaran? Apakah memang sekadar formalitas semata? Jika tidak, lantas kenapa mulut yang baru saja mengucap maaf, tidak lama kemudian malah menjadi perantara dalam melontarkan kalimat-kalimat menyakiti perasaan orang lain?

Karena sadar betapa menyakitkannya melihat anak di-bully, saya membuat keputusan untuk pilih-pilih datang ke acara keluarga. Jika pun saya harus datang, saya pastikan bahwa saya bisa datang tanpa harus membawa anak.

Bawa anak, sama artinya saya menyetorkan anak saya sendiri untuk jadi bahan bullying.

Kita boleh tidak sepakat akan keputusan itu dan itu sah-sah saja. Intinya, sebagai seorang ibu, saya hanya berusaha melakukan hal terbaik.

Membesarkan anak itu bukan perkara mudah. Selain butuh raga yang sehat, juga dibutuhkan jiwa yang bahagia.

Bener nggak, Bun? 

Untuk para ibu yang sedang mengalami hal yang sama, peluk jauh dari saya, ya. Semangat dan bahagia selalu.

Author : UtamyyNingsih

Post a Comment

Previous Post Next Post