Meski saya sudah berusaha sebisa mungkin untuk mem-filter hal-hal nggak penting untuk "dikonsumsi" di media sosial, nyatanya kabar-kabar mbuh dari dunia perghibahan publik figur—khususnya artis—masih sering lalu-lalang di beranda media sosial saya.

Salah satu kabar menyebalkan yang saat ini rasanya sudah sangat memuakkan adalah sepak terjang Pak Doddy Soedrajat di dunia infotainment. Sejak anaknya meninggal, hampir setiap hari kabar tentang beliau muncul di berbagai media. Ada-ada saja bahan hujatan yang beliau persembahkan.

Apesnya, saya yang kesal akan fenomena tersebut, tapi kok bisa-bisanya saya update sekali kabar tentang beliau. Kabar terbaru, beliau mengajukan banding atas hak asuh dan hak wali cucunya, serta kembali mendesak dilakukan tes DNA terhadap sang cucu.

doddy soedrajat

Doddy Soedrajat Buktikan Bahwa Tidak Semua Ayah Bisa Jadi Cinta Pertama Anak Perempuannya

Melihat dan mendengar apa yang dilakukan Pak Doddy, saya itu selalu kesal sendiri. Anak sudah meninggal, bukannya dibiarin tenang, kok malah bikin ribut terus? Sedih sekali rasanya melihat beliau meragukan ayah kandung cucunya sendiri. Ayah macam apa yang bisa-bisanya menggiring opini buruk tentang anaknya sendiri? Beliau ini salah satu contoh bahwa tidak semua ayah bisa jadi cinta pertama untuk anak perempuannya.

Monmaap sebelumnya, Pak Doddy. Saya tahu apa yang saya tuliskan di atas memang nggak sopan. Tapi ya gimana ya, Pak. Di luar sana, komen-komen netizen jauh lebih sadis lho, Pak.

Saya yakin hujatan di DM akun IG Pak Doddy pasti sudah tumpeh-tumpeh. Kalau sudah begitu, apa nggak ada kepikiran untuk stop aja gitu, Pak? Sayang tenaganya lho disalurkan ke hal-hal yang menimbulkan huru-hara. Kantung matamu itu lho, Pak … Gambaran kelelahan.

Meski lebih muda dari Pak Doddy, saya ini juga sudah punya anak, Pak. Saya juga paham, lah, gimana rasanya ditinggal meninggal secara tiba-tiba oleh orang tersayang, tapi ya nggak sebegitunya juga kali, Pak, responsnya. Drama-drama Pak Doddy tuh terlalu … ahh bingung mendeskripsikannya.

Bapak tahu, nggak? Mengikuti kabar tentang tentang bapak itu rasanya sudah seperti kelakuan pedagang bakso yang dicampur boraks; awalnya coba-coba, ujung-ujungnya keterusan.

Semasa anak bapak masih hidup, bapak, kan, sudah punya image sebagai ayah yang kejam sama anak sendiri. Setelah anak bapak meninggal, apa bapak nggak ada niat untuk mengubah image, gitu, Pak?

Saya tahu, Pak. Kabar tentang bapak itu masih seliweran karena media selalu kasih panggung. Setiap kali bapak merilis huru-hara, di situ pula wartawan media dan admin akun gosip berkumpul. Lantas, mau sampai kapan begitu, Pak? Apa, sih yang bapak cari?

Bapak tahu nggak sih, di media sosial banyak yang kasian sama anak bapak karena punya orang tua seperti bapak. Banyak yang bersyukur karena tidak punya orang tua seperti bapak, saya salah satunya.

Dari apa yang bapak tampilkan di media, saya jadi belajar untuk menjadi orang tua terbaik untuk anak-anak saya. Anak itu, kita sebagai orang tua nih yang mau mereka ada, bukan mereka yang meminta untuk ada di dunia. Mereka juga nggak bisa memilih lahir dari orang tua seperti apa. Kalau bisa memilih, sih, banyak tuh yang mau jadi anaknya Pak Hari Tanoesudibyo karena setidaknya mereka bisa hapal duluan Mars Perindo sebelum di-launching di TV.

Tapi yah, sudahlah, Pak. Pada akhirnya mungkin memang memang yang bapak lakukan adalah bagian dari aksi panjat sosial demi eksistensi diri. Yah, namanya juga dunia entertainment. Kalau tidak punya prestasi, bikinlah sensasi!

Iya, toh?

Author : Utamyyningsih

Baca juga curhat pemulasaraan jenazah Covid yang sempat kisruh ini yuk!








1 Comments

  1. Aih ..kantung matamu itu lo Pak ..gambaran kelelahan - TERBAIK!

    ReplyDelete

Post a Comment

Previous Post Next Post