Film Pendek Demi Nama Baik Kampus, Beratnya Perjuangan Korban Kasus Pelecehan Seksual

“Kalo kamu berani ngomong, habis kamu! Paham?”

Sepenggal kalimat di atas adalah dialog yang diucapkan oleh seorang figur fiktif bernama Arie yang berprofesi sebagai dosen. Di kampus tempatnya mengajar, Arie terkenal sebagai dosen yang baik dan bertampang kece. 

Siapa sangka, di balik persona nyaris sempurna yang ia tampilkan, Arie adalah sosok pelaku pelecehan seksual terhadap Sinta, salah satu mahasiswi bimbingannya.

film pendek demi nama baik kampus
source : Youtube

Film Pendek Demi Nama Baik Kampus

Sedikit kisah yang saya tuliskan di atas adalah bagian dari sebuah film pendek berjudul Demi Nama Baik Kampus yang dirilis oleh Kemendikbud RI pada bulan Desember tahun lalu. Sebagaimana yang saya tuliskan, premisnya adalah kisah tentang pelecehan seksual oleh dosen terhadap mahasiswi―di lingkungan kampus.

Cerita bermula ketika Sinta yang sedang dalam tahap menyusun skripsi, bertemu dengan Arie, dosen pembimbingnya, untuk mengajukan tema skripsi. Awalnya, percakapan mereka normal-normal saja. Sinta pun tidak menaruh rasa curiga ataupun ketakutan tertentu. 

Namun, situasi menjadi berubah ketika Arie mulai menunjukkan kebangsatannya dengan menyentuh fisik Sinta, lebih jauh ia bahkan mencoba mencium Sinta. Sinta tentu saja menolak. Ia ketakutan.

Dalam kondisi tidak keruan, ia berusaha mencari tempat aman. Dasar si Arie adalah (contoh) laki-laki bejat, ia terus mengejar Sinta. Di tempat yang menurut Sinta aman tersebut, Arie memberi ancaman yang sepenggal kalimatnya menjadi pembuka dari tulisan ini.

Perilisan film Demi Nama Baik Kampus di tengah maraknya kasus serupa yang dialami oleh Sinta, bisa dibilang termasuk satu langkah besar dan berani dari pihak Kemendikbud. Pasalnya, melalui film ini, kita akan mendapat banyak sekali pandangan dan pengetahuan terkait betapa sulitnya perjalanan korban dalam memperjuangkan keadilan atas apa yang ia (dan mereka) alami.

film pendek demi nama baik kampus
source : suara.com


Sebagaimana yang terjadi dalam film ini, pelakunya adalah seorang dosen―terkenal baik dan bertampang kece pula. Artinya, antara pelaku dan korban ada ketimpangan relasi kuasa yang terjadi.

Sejak awal, Arie sudah memberi ancaman kepada Sinta, dalam perjalanan pengungkapan kasus ini pun, ia masih menunjukkan kebejatannya. Dengan tampang sok polos dan laki-laki baik-baik, ia malah menekan Sinta.

Ketika dikonfrontasi, jangankan meminta maaf, mengakui pun tidak. Lebih parahnya lagi, ia malah playing victim, berlagak seolah-olah Sinta yang sudah melakukan fitnah. Saat ia mengucapkan, “semoga Tuhan mengampunimu,” kepada Sinta, saya yang menonton film ini rasanya jadi ingin muntah di depan Arie.

Dalam kondisi yang sangat berat, “beruntung” Sinta punya Abi, sahabat yang paham dan percaya kepada Sinta. Selama proses pengungkapan kasus tersebut, Abi-lah yang mendampingi Sinta. Ia juga yang akhirnya memberi jalan kepada Sinta untuk bertemu dengan tim satgas penanganan kekerasan seksual di lingkungan kampus yang ikut memperjuangkan keadilan bagi Sinta.

Melalui interaksi antara Abi dan Sinta, penonton diajak untuk melihat bagaimana pendampingan terhadap seorang korban kasus pelecehan seksual. Abi menunjukkan empatinya dengan pertama-tama mempercayai apa yang Sinta ceritakan. Ia merangkul Sinta, memberi dukungan terhadap Sinta, lalu ikut berjuang bersama Sinta.

Sama seperti banyak korban kasus pelecehan seksual lainnya, Sinta tentu merasa hancur. Terlebih sebelum kasusnya terungkap, sangat sulit untuk mendapat dukungan. Dengan dalih demi nama baik kampus, apa yang ia alami justru diarahkan untuk diselesaikan dengan jalur damai. Gilanya lagi, dalam berkas kesepakatan yang disiapkan oleh pihak kampus, yang diminta minta maaf justru adalah Sinta.

Bayangkan, ia adalah seorang korban, tetapi karena pelakunya punya kuasa, yang terjadi malah ia yang seolah-olah menjadi pelaku. Oleh pihak kampus, pelecehan seksual yang Sinta alami, dipercaya sebagai akal-akalan dari Sinta karena niatnya untuk mendapat nilai tinggi dari Arie, tidak diindahkan.

Pada akhirnya, sebagaimana yang saya tuliskan di atas, menonton film ini memang memberikan banyak sekali pandangan dan pengetahuan baru perihal perjuangan korban kasus pelecehan seksual. Benar bahwa film ini adalah karya fiksi semata, tetapi melihat adegan dan dialog di dalamnya, rasanya relate sekali dengan apa yang marak terjadi.

Satu hal yang juga sangat menarik adalah bagaimana film ini memantik pemikiran untuk tidak takut bersuara. Baik itu sebagai korban ataupun saksi, suara kalian sangat berarti.

Jika kalian tertarik untuk menonton film ini, pastikan kalian baik-baik saja dengan tema film ini. Karena dalam penayangannya bukan tidak mungkin akan memicu perasaan emosional yang membuat kalian jadi merasa tidak nyaman.

Oh, iya. Film ini bisa kalian tonton di YouTube, ya.



Author :

Seorang ibu yang suka membaca dan sedang belajar menulis. Blasteran Jawa-Toraja, yang bisa disapa lewat IG dan Twitter @utamyyningsih

Post a Comment

Previous Post Next Post