Menyebut nama Reza Rahadian dan Anya Geraldine, sebagian dari kita mungkin akan langsung teringat pada web series Layangan Putus. Web series lokal yang diangkat dari kisah yang sebelumnya sempat viral tersebut, menjadi salah satu karya lokal yang memang mencuri perhatian masyarakat Indonesia.

Baru-baru ini, Reza dan Anya kembali terlibat dalam satu proyek. Berbeda dengan Layangan Putus, kali ini mereka beradu akting dalam layar lebar berjudul Garis Waktu.

Sinopsis Garis Waktu

garis waktu

Kalian yang menjadi penikmat karya Fiersa Besari, pasti sudah tahu bahwa film bergenre romance tersebut adalah sebuah alih wahana dari buku menjadi film. Yup, Garis Waktu adalah film yang diangkat dari buku karya Fiersa Besari dengan judul yang sama.

Dalam film Garis Waktu, Senandika (Reza Rahadian), seorang musisi yang sering tampil di kafe, pada suatu hari bertemu secara tak sengaja dengan April (Michelle Ziudith).

Layaknya sebuah kisah kebetulan yang sering hadir dalam berbagai macam cerita romance, mereka bertemu karena satu insiden yang pada akhirnya membuat mereka semakin dekat karena ada kebetulan lainnya yang juga turut hadir.

Dalam perjalanan menjemput Sanya (Anya Geraldine), sahabatnya, ban mobil yang dikendarai April mengalami kebocoran. Ndilalah Dika lewat. Dika menolong April dan terciptalah moment pertemuan pertama yang bisa dibilang cukup berkesan.

Siapa sangka, ternyata April adalah salah satu anak dari donatur di sekolah informal tempat Dika juga pernah menuntut ilmu dan kemudian ikut menjadi relawan.

Setelah bertemu di sekolah tersebut, hubungan mereka makin akrab. Awalnya sekadar teman ngobrol dan teman jalan yang seru, akhirnya jadi sepasang kekasih.

Sebagai bentuk balas budi dan dukungan sebagai seorang pacar, April membantu Dika (yang ia panggil Sena) dalam merintis karir menjadi musisi terkenal. Kebetulan lainnya, April punya Sanya yang bisa memproduseri Dika. Berkat ikut campur tangan Sanya, karir Dika melesat. Ia semakin terkenal dan karyanya disukai banyak orang.

Sayangnya, perjalanan karir Dika tidak semulus kisah cintanya. Hubungan mereka ditentang oleh orang tua (khususnya bapak) April. Stigma bahwa musisi tidak punya masa depan yang jelas, jadi batu sandungan bagi April dan Dika. April ini tipe anak yang semuanya diatur oleh orang tuanya.

Belum cukup sampai di situ, hubungan April dan Dika pun sempat diuji dalam bentuk LDR. April harus ke London untuk melanjutkan kuliah, sementara Dika sibuk merintis dan mengembangkan karir, dibantu oleh Sanya.

Ketika akhirnya April kembali, satu peristiwa menyakitkan terjadi. April mendapati Sanya dan Dika bermesraan. April kecewa. Ia memutuskan hubungan dengan Dika maupun Sanya.

Selanjutnya, saya yakin kalian pun pasti sudah bisa menebak bagaimana alur ceritanya.

Review Garis Waktu

Saya lupa kapan tepatnya saya membaca buku karya penulis yang sering disapa Bung ini. Yang saya ingat, isinya memang senandika. Mungkin itulah mengapa tokohnya bernama senandika.

Jika disimpulkan dalam satu kalimat, film ini rasanya not a cup of my tea. Bukan selera saya.

Sejak awal, alur ceritanya sudah sangat bisa ditebak. Ceritanya benar-benar khas tayangan FTV yang biasa tayang di stasiun televisi swasta Indonesia. Bahkan, saya sampai ngakak ketika ada plot twist perihal perubahan karakter bapaknya April. Rasanya benar-benar dejavu dengan FTV yang pernah saya tonton, meski saya lupa judulnya apa.

Saya sendiri bukan anti romance, cuma ya… itu tadi, ceritanya terlalu FTV-able.

Konfliknya sangat datar. Sosok Sanya yang hadir sebagai orang ketiga pun tidak cukup untuk mendongkrak ritme film. Terasa tiba-tiba dan "hah, gitu doang?"

Bukan berarti saya mengharapkan ada adegan yang lebih panas daripada apa yang ditampilkan, tetapi konfliknya terasa dipaksakan. Kenapa nggak diplot dulu ada sesuatu yang April curigai, tetapi kemudian ia berusaha denial? Biar ada gregetnya gitu lho.

Selain itu, dialog yang mereka pakai juga terkesan kaku. Kutipan-kutipan yang dijadikan sebagai dialog, rasanya jadi cringe.

Belum lagi ada adegan yang membingungkan. Yaitu ketika April dikurung di kamarnya, tetapi Dika masih bisa bebas menemui. Ya, kalau rumahnya April kayak rumah biasa saja, sih, masih masuk akal lah, ya. Ini kan ceritanya April itu dijaga banget sama bapaknya. Sampai bisa kecolongan gitu, kan, jadinya aneh, wqwqwq.

Meski banyak kurangnya, yang keren dari film ini adalah akting pemain utamanya. Reza dan Michelle. Chemistry mereka keren, sih. Permainan ekspresi dari Reza pun tidak perlu diragukan lagi lah, ya. Sedih, marah, kecewa, senang, ngegombal, salting, semuanya apik. Michelle juga selalu cocok jadi cewek manis yang memggemaskan.

Selain itu, dalam film ini juga kita akan menikmati suaranya Reza membawakan beberapa lagu dari Fiersa Besari. Baru dalam film ini saya dengar Reza nyanyi. Ada lagu yang dia juga duet sama Michelle.

Film ini juga kental banget dengan suasana anak senja. Dari lagu indie sampai pemandangan pantai yang memang sudah sering dikaitkan dengan frasa anak senja.

Intinya begitulah, cerita dalam film ini memang too good to be true. Meski demikian, setidaknya ada pelajaran perihal kehidupan yang bisa diambil, bahwa orang tua tidak selalu benar dan tidak selalu yang terbaik menurut orang tua adalah yang benar-benar terbaik untuk anak.

Dalam hal percintaan ya begitulah, namanya juga cinta, deritanya memang tiada akhir, wqwqwq.

Kalau kalian penasaran, film ini bisa ditonton di Disney+ Hotstar ya! 

Baca juga review film Indonesia lainnya di sini ya.


Author : UtamyyNingsih

Post a Comment

Previous Post Next Post