Beberapa waktu lalu saya banyak sekali membaca berita tentang banyaknya nakes undur diri saat pandemi. Cukup kaget juga. Setelah dulu, di tahun 2020 ada gerakan #IndonesiaTerserah karena sulitnya masyarakat Indonesia mematuhi aturan protokol kesehatan, kini dikabarkan banyak pula nakes undur diri saat pandemi.


Banyak juga yang berkata, 'Udah gaji gede, ngambek, sekarang malah undur diri. Lihat dong kami-kami ini yang tak punya pekerjaan.' Menurut saya itupun juga tak sepenuhnya benar. Mengajari seseorang bersyukur sementara sisi lain menghujat tentu bukan tindakan yang bijaksana ya kan. 


Ditambah lagi karena perbandingannya bukan apple to apple. Saat ini kita membicarakan tentang nakes undur diri saat pandemi dan penyebabnya. Bukan tentang bagaimana mensyukuri hidup. Berbicara soal syukur, kita bahas nanti saja ya.


nakes undur diri saat pandemi


Bagaimana Jika Nakes Undur Diri Saat Pandemi?

Bisa kita bayangkan, bagaimana jika para tenaga ahli saat ini kompak mengatakan untuk tidak mau mengobati kita, rakyat yang terinfeksi virus? Akan pergi kemana lagi kita?


Tentu ada saja yang akan mengatakan, ya minta kesembuhan pada Allah dong! Itu juga tidak salah, dan memang semestinya kita hanya meminta pertolongan pada Allah. Tapi ngga mungkin juga kan Allah menolong kita tanpa perantara?


Allah menurunkan ilmuNya, melalui dokter. Di bidang kesehatan sejak dulu kita punya dokter atau yang biasa disebut dalam bahasa Arab sebagai thabiibun/tabib. Bahkan semasa Rasulullah hidup pun, beliau menyerahkan urusan duniawi seperti kesembuhan seseorang, pertanian, peternakan pada ahlinya. Sabda Rasulullah, 'kamu yang lebih mengerti urusanmu'.


Ustadz saya pernah mengulas tentang sebuah ancaman bagi yang menyerahkan urusan kepada yang bukan ahlinya. Sebagaimana sabda Nabi saya, Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,

Jika amanah telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi. Lalu ada seorang sahabat bertanya : 'Bagaimana maksud amanah disia-siakan?' Lalu Nabi menjawab, 'Jika urusan diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggulan kehancuran itu.' (HR Bukhari).

 Amanah yang paling pertama dan utama bagi manusia ialah amanah ketaatan kepada Allah, pencipta, pemilik, pemelihara dan penguasa alam semesta dengan segenap isinya.


Lalu ketika datang wabah atau penyakit yang melanda bumi ini, dan kita sudah tahu ada berapa juta dokter di dunia ini. Apakah mereka semua jadi pembohong? Apakah mereka semua tega mengeruk keuntungan dari kaum papa? Atau entah konspirasi apalagi yang meracuni otak kita.


Terlepas dari oknum tenaga medis yang mungkin tidak termaafkan, namun bisakah kita melihat bagaimana tenaga medis lainnya juga sedang berjuang dengan segenap tenaga, pikiran dan waktunya agar pandemi ini dapat segera teratasi?


Kalau ada teman-teman yang memang tidak percaya dengan Rumah Sakit dan segala isinya, tentu itu menjadi hak mereka semua. Namun, perintah Allah dan RasulNya sudah jelas. Serahkan urusan duniawi, termasuk urusan kesehatan pada ahlinya. Jika tidak, maka akan terjadi kerusakan seperti sabda Nabi. Ada chaos yang mungkin tidak akan bisa kita kendalikan lagi.


Agak miris juga ketika membaca berita dari Ketua Dokter Indonesia Bersatu, Dokter Eva Sri Diana Chaniago mengatakan bahwa kondisi di lapangan saat ini banyak membuat nakes memilih resign atau meninggalkan profesinya. Apalagi bagi relawan Covid-19.


Beban mereka sudah banyak, ditambah lagi hujatan dari masyarakat yang kurang teredukasi soal sistem dan birokrasi rumah sakit di negeri ini. Ada yang bilang setiap yang datang ke Rumah Sakit dicovidkan lah, dokter mengambil untung banyak lah, vaksin adalah bisnis dunia kedokteran lah, vaksin bikin memperparah kondisi tubuh lah, dan hal-hal menyakitkan lainnya jika teman-teman sering nongkrong di status ibu-ibu atau bapak-bapak yang ngeyel dan lemes banget jarinya selalu menyalahkan tenaga kesehatan dan rombongannya.


Sebenarnya saya ingin mengungkapkan apa yang menjadi pertanyaan dalam hati saya sejak lama.

Kalaulah kalian tidak percaya dengan dokter dan pengobatan medis lainnya. Kemanakah kalian akan pergi ketika sakit? Apakah Ponari masih menjadi idola sepanjang masa?


Eh, saya pengobatan natural dong. Semua kembali pada alam. Contohnya orang zaman dulu juga ngga apa-apa tuh ngga minum obat atau yang sejenisnya. Apalagi vaksin.


Nah, kita membahas vaksin pun tidak akan pernah menjadi satu bahasan singkat dalam satu artikel. Teman-teman harus mencoba membuka hati dan pikiran, bahwa vaksin saat ini menjadi masalah kemanusiaan. Tidak ada vaksin flu yang langsung menjadi sempurna 100%. Begitu pula dengan vaksin Covid yang sampai saat ini terus mengalami penyempurnaan.


Jadi kalau ingin mendapatkan hasil yang sempurna, ya harus ada yang mau berkorban untuk ilmu pengetahuan bukan? Sangat konyol jika dikatakan kita adalah korban percobaan. Kalau tidak ada percobaan, mana mungkin bisa menuju kesempurnaan? Lalu bagaimana satu atau dua nyawa yang hilang karena percobaan?


nakes undur diri saat pandemi
source : klikdokter

Sejauh ini sih menurut saya science tidak sekejam itu sehingga tidak mempertimbangkan urusan nyawa sebagai faktor risiko. Tentu saja para ilmuwan sudah mengukur sejauh mana risiko yang akan dihadapi. Jika membahayakan umat manusia, saya pikir hal itu tidak akan pernah diberikan pada kita secara luas dan masif di seluruh penjuru dunia.


Masih ada juga yang nyinyir soal konsultasi dokter online, katanya untuk itulah obat-obatan mereka banyak yang laku dan lain sebagainya. Mirisnya mereka yang mengatakan ini cukup paham dengan agama. Sayangnya, lagi-lagi mereka berlaga seperti ahlinya. Tanpa tahu prosedur dan bagaimana dokter menerapkan konsultasi online sebagai kondisi darurat di tengah pandemi seperti ini.


Oh come on! Bisa tidak sih kepala para Bani Teluuur itu sedikit saja berimbang dan adil? Kalaulah mereka tetap mempercayai itu dan tidak mau diganggu gugat, bolehlah mereka turun menjadi relawan.  Menggantikan para dokter, perawat, apoteker, sopir ambulans, hingga petugas pemulasaraan jenazah agar Rumah Sakit tidak lagi kekurangan tenaga. Agar pandemi ini dapat cepat teratasi.


Kembali lagi pada bahasan bagaimana jika nakes mengundurkan diri?


Antara Birokrasi, Kemanusiaan, dan Semua Orang yang tiba-tiba Menjadi Ahlinya

Suatu ketika saya pernah mengeluh karena insentif saya tak kunjung turun selama empat bulan. Memang sudah biasa terjadi, selama empat tahun terakhir ini. Entah dana insentif pekerja honorer ini berhenti di pusat, provinsi, atau kota saya tidak tahu. Yang jelas saya tidak pernah menerima insentif tepat waktu.
 

Ternyata, seorang teman saya juga demikian. Padahal beliau adalah dokter, sebagai garda terdepan pandemi ini. Kebetulan beliau masih single, jadi urusan insentif yang terbayarkan setelah 10 bulan kemudian bukan menjadi masalah yang besar.


Namun, kita harus tahu bahwa tidak semua dokter terlahir kaya, terlahir di dalam keluarga yang berada. Ada pula dokter yang hidupnya pas-pasan karena masih belum menjadi pegawai Pemerintah atau pegawai tetap sebuah Rumah Sakit. Ia hanya bergantung pada insentif yang dibayarkan oleh Pemerintah.


Apalagi jika mereka adalah kepala keluarga. Mau makan apa jika insentif diberikan setelah 10 bulan kemudian?


Saya tidak akan bisa membayangkannya tentu saja. Mereka sibuk dan tentunya tidak punya waktu untuk mengurus soal biaya hidup tambahan dari kerja sampingan misalnya? Tidak mungkin kan? Bahkan ada pula teman sejawat saya yang juga sebagai pegawai honorer terpaksa harus hutang sana sini untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sembari menunggu gaji yang tak juga cair ke rekening masing-masing dari kami.


Maka tak heran jika garda terdepan negeri ini dalam menghadapi pandemi banyak yang mengambil langkah untuk resign. Selain kehidupan yang tidak dijamin oleh negara, risiko tertular yang amat tinggi, serta beban kerja yang sangat berat, tentu saja mereka tidak punya uang untuk beli vitamin dan susu sebagai gizi tambahan untuk energi yang dibutuhkan.


nakes gugur
banyak dari mereka yang gugur karena risiko pekerjaan, namun banyak pula yang masih sangsi dan mencaci maki mereka yang telah menolong banyak orang hingga hari ini


Masihkah orang-orang itu menganggap pandemi dan virus Covid ini sebagai sandiwara belaka? Masihkah mereka akan menuduh paramedis dengan sebutan zalim dan umpatan kasar lainnya? Bahkan pernah ada aksi pemukulan.


Kalau kata dokter Faheem Yunus, dokter terkenal yang mendalami penyakit infeksius : yang membuat virus Covid-19 ini menyebar sangat cepat adalah karena dari kasus Covid yang 186 juta ini, ada 286 juta pakarnya :)


Kalau kita tidak percaya lagi pada ahlinya, lalu anggaplah semua nakes undur diri saat pandemi seperti ini. Apakah kita akan mencari pertolongan untuk ayah, ibu, atau saudara-saudara kita ke dukun? Ke Ponari?


Disclaimer : seperti yang telah saya sampaikan, saya bukan anak dokter, bukan juga paramedis, bukan pula anak direktur rumah sakit. Saya hanya seorang blogger yang ingin menyuarakan tangisan mereka yang tak terdengar. Disamping banyaknya masyarakat yang kelaparan, ketidakberdayaan akibat PPKM, setidaknya kita mampu menahan untuk tidak mencaci maki atau menyalahkan petugas kesehatan yang saat ini menjadi garda terdepan.


Tidak ada yang ingin pandemi ini terjadi. Kita ingin semua kembali seperti semula. Jadi mari saling bersinergi, bekerjasama, dan saling mendukung satu sama lain sesuai kapasitas masing-masing.

Post a Comment

Previous Post Next Post